Kasus Covid-19 di Yogya Kian Mengkhawatirkan, Sultan HB X: Lockdown

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X (baju kotak-kotak) menyatakan Keraton Yogya bersih dari potensi virus corona saat kunjungan Raja Belanda pada Rabu (11/3) lalu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X (baju kotak-kotak) menyatakan Keraton Yogya bersih dari potensi virus corona saat kunjungan Raja Belanda pada Rabu (11/3) lalu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sultan HB X mulai mempersiapkan kemungkinan terburuk menghadapi lonjakan penularan Covid-19 dengan menerapkan lockdown.

    “Kalau kontrol pembatasan mobilitas masyarakat lewat RT/RW juga sudah gagal, terus arep ngopo meneh (mau apa lagi)? Satu-satunya cara ya lockdown total,” kata Sultan HB X di Yogyakarta Jumat 18 Juni 2021.

    Sultan merujuk data tingkat keterisian ranjang perawatan Covid-19 di rumah sakit rujukan atau Bed Occupancy Ratio (BOR) ruang isolasi yang semakin tinggi saat ini.

    Dari awalnya hanya terpakai 36 persen kini sudah melonjak 75 persen akibat lonjakan kasus yang nyaris menembus 600 kasus baru per hari pasca sebulan lebaran ini.

    “Kita sudah coba PPKM Mikro, itu artinya sudah tingkat terbawah, mengatur lingkup terkecil, tapi ternyata mobilitasnya masih seperti ini (penuh di Yogya) apalagi saat weekend,” kata Sultan.

    Sultan mengatakan dalam perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro DIY yang diteken dan berlaku 15-28 Juni 2021, sejumlah aturan pun sudah dimodifikasi agar bisa menekan penularan yang sudah terjadi di tingkat keluarga dan antar tetangga. Modifikasi PPKM Mikro ini menurutnya sudah langkah paling akhir menekan mobilitas.  

    “Bahkan dalam aturan itu juga semua hajatan dan kegiatan sosial kerumunan harus izin sampai kecamatan, tak cukup RT/RW saja, kalau ini masih juga tembus dan kasus tetap tinggi ya tidak ada cara lain,” ujarnya.

    Sultan menambahkan, di masa seperti ini, belum tentu bisa mencari jalan keluar selain melakukan penutupan wilayah secara total melalui lockdown untuk menekan mobilitas itu. 

    Hanya saja, sebelum rencana lockdown itu dilakukan, pihaknya masih akan memanggil seluruh pemerintah kabupaten juga rumah sakit pada Senin depan 21 Juni 2021.

    Dalam pertemuan pekan depan Sultan akan meminta pertimbangan seluruh pemangku kepentingan, bagaimana strategi terbaik menghadapi lonjakan kasus ini. Jika memang yang bisa dilakukan adalah lockdown, maka tak menutup kemungkinan langkah itu segera diambil Yogya.

    Hingga Kamis 17 Juni 2021, kasus corona di DIY secara kumulatif mencapai 50.746 kasus. Sementara kasus sembuh mencapai 44.843 kasus dan meninggal sebanyak 1.330 kasus. Untuk kasus aktif mencapai 4.573 kasus.

    Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan dari total 941 bed rumah sakit rujukan Covid-19, pekan ini, tingkat keterisiannya sudah melampui ambang aman. "BOR rumah sakit saat ini sudah 75 persen, itu di sudah atas standar, karena terisi 60 persen saja itu sudah warning," kata Pembajun

    Dinas Kesehatan DIY saat ini telah menghubungi seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 untuk segera menambah jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 minimal 30 persen.

    Tak hanya kasus baru yang bertambah di Yogyakarta. Saat ini jumlah kasus meninggal dunia karena Covid-19 secara harian juga kembali naik dan didominasi lanjut usia. Kematian perhari yang sebelum lebaran 1-10 kasus, kini sudah mendekati 20 kasus kematian per hari.

    PRIBADI WICAKSONO

    Baca: Kasus Covid-19 di Yogya Cetak Rekor Baru, Begini Strategi Pemerintah DIY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.