Ini Alasan Kenapa Istilah PRT Lebih Baik Ketimbang ART Apalagi Pembantu

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa perempuan pekerja rumah tangga (PRT) melakukan senam saat aksi May Day atau Hari Buruh Internasional di kawasan Thamrin, Jakarta, 1 Mei 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Massa perempuan pekerja rumah tangga (PRT) melakukan senam saat aksi May Day atau Hari Buruh Internasional di kawasan Thamrin, Jakarta, 1 Mei 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari pekerja rumah tangga (PRT) internasional dirayakan pada Rabu, 16 Juni 2021 di seluruh dunia. Salah satu diskusi yang mencuat adalah kenapa masyarakat harus menggunakan istilah pekerja rumah tangga ketimbang asisten rumah tangga (ART) apalagi pembantu

    Koordinator Nasional Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT), Lita Anggraini mengatakan saat ini PRT dan ART adalah dua istilah yang paling sering digunakan. Namun di antara keduanya, Lita mengatakan istilah pekerja dalam pekerja rumah tangga, lebih tepat dipakai.

    "Itu kan memang masuk dalam hubungan kerja dengan unsur-unsur ada perintah, ada majikan, ada pekerjaan yang dikerjaan, dan ada pekerjanya," kata Lita kepada Tempo, Rabu, 16 Juni 2021.

    Berbeda dengan istilah asisten rumah tangga yang juga secara harafiah berarti pembantu. Lita mengatakan istilah ini hanya menyerap dari kata assistant di bahasa Inggris, namun tak mengubah esensi bahwa artinya adalah pembantu.

    Pembantu, bisa diartikan sebagai orang yang membantu, dan bisa jadi tanpa imbalan. Berbeda dengan PRT yang secara orientasi adalah seorang pekerja. "Kalau PRT kan memang kerja untuk mencari imbalan," kata Lita.

    Lita pun mengatakan istilah PRT juga lebih diterima secara internasional, karena sesuai dengan Konvensi International Labour Organization (ILO) 189 tentang kerja layak bagi pekerja rumah tangga. Saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir di Konvensi pada 16 Juni 2011.

    "Ia menyatakan bahwa Indonesia akan meratifikasi dan menggunakan konvensi itu sebagai acuan. Tapi hingga saat ini, RUU Perlindungan PRT ini belum juga keluar," kata Lita.

    Baca juga: Ini 7 Alasan Kenapa RUU Perlindungan PRT Harus Disahkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.