KPK Dalami Munculnya Nama Azis Syamsuddin dan Fahri Hamzah di Sidang Benur

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR periode 2014-2019 Fahri Hamzah menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2020. Mahaputera Nararya merupakan tanda kehormatan berupa Bintang sipil yang diberikan kepada Mantan ketua/wakil ketua lembaga negara, mantan menteri dan setingkat yang telah menyelesaikan tugasnya. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Wakil Ketua DPR periode 2014-2019 Fahri Hamzah menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2020. Mahaputera Nararya merupakan tanda kehormatan berupa Bintang sipil yang diberikan kepada Mantan ketua/wakil ketua lembaga negara, mantan menteri dan setingkat yang telah menyelesaikan tugasnya. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan akan mendalami munculnya nama Azis Syamsuddin dan Fahri Hamzah dalam sidang kasus suap ekspor benih lobster.

    “Fakta sidang perkara ini, baik keterangan saksi maupun para terdakwa selanjutnya akan dianalisis tim JPU KPK dalam surat tuntutannya,” kata pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri, Rabu, 16 Juni 2021.

    Ali mengatakan analisis diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan apakah keterangan saksi tersebut diperkuat dengan alat bukti lain sehingga membentuk fakta hukum untuk dikembangkan lebih lanjut.

    “Prinsipnya, tentu sejauh jika ada kecukupan setidaknya dua bukti permulaan yang cukup, kami pastikan perkara ini akan dikembangkan dengan menetapkan pihak lain sebagai tersangka,” kata dia.

    Nama Azis Syamsuddin dan Fahri Hamzah disebut dalam sidang kasus ini yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. Nama tersebut muncul ketika jaksa membuka percakapan WhatsApp antara mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dan Safri, staf khusus Edhy.

    Dalam percakapan itu, Edhy Prabowo diduga memberi tahu kepada Safri bahwa orang Azis dan Fahri ingin ikut dalam ekspor benih lobster. “Saf, ini orangnya Pak Azis Syamsuddin Wakil Ketua DPR mau ikut budi daya lobster, Novel Esda,” kata jaksa membacakan chat. “Oke bang,” kata Safri seperti ditirukan jaksa.

    Lalu, pada 16 Mei 2020, percakapan berlanjut mengenai Fahri Hamzah. “Saf, ini tim Pak Fahri Hamzah mau jalan lobster. Langsung hubungi dan undang presentasi,” kata Edhy seperti ditirukan Jaksa.

    Menjawab pertanyaan jaksa, Safri yang hadir sebagai dalam sidang mengatakan arahan itu adalah untuk membantu secara umum. Safri mengatakan lupa nama perusahaan milik kedua politikus tersebut.

    Dalam perkara ini Edhy Prabowo didakwa bersama-sama Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (sekretaris pribadi istri Edhy, Iis Rosita Dewi) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo) menerima 77 ribu dolar AS dan Rp24,625 miliar. Totalnya mencapai sekitar Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.