Mengenal Mulanya Filantropi di Indonesia, Kerja Sosial untuk Publik

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi kedermawanan dari Gerakan Jumat Berbagi yang digelar di 105 kota dan kabupaten. Gerakan ini digagas oleh komunitas Employee of Allah dilakukan dengan membagikan makanan kepada 100 ribu orang dan pemeriksaan kesehatan. (Dok. Istimewa)

    Aksi kedermawanan dari Gerakan Jumat Berbagi yang digelar di 105 kota dan kabupaten. Gerakan ini digagas oleh komunitas Employee of Allah dilakukan dengan membagikan makanan kepada 100 ribu orang dan pemeriksaan kesehatan. (Dok. Istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Filantropi didefinisikan sebagai tindakan sukarela untuk kepentingan publik. Bila ditelusuri, sejarah Filantropi di Indonesia berawal dari unsur Filantropi Tradisional yang bersumber dari agama, baik Kristen maupun Islam. Filantropi keagamaan di Indonesia ini terkait dengan kegiatan misionaris dan dakwah.

    Kegiatan penyebaran agama dilakukan dengan penyediaan pelayanan sosial atau kerja sosial terutama pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial (panti-panti sosial). Saat itulah para pegiat filantropi dari kalangan anak muda mulai tumbuh. Gerakan-gerakan kaum muda untuk pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) juga merupakan salah satu contoh tindakan filantropis.

    Ditinjau dari sifatnya, filantropi dibagi menjadi dua yaitu tradisional dan modern. filantropi tradisional adalah filantropi yang berbasis belas kasihan yang pada umumnya berbentuk pemberian untuk kepentingan pelayanan sosial seperti pemberian para dermawan kepada kaum miskin untuk membantu kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain lain. Dengan demikian, bila dilihat dari orientasinya maka Filantropi Tradisional lebih bersifat Individual.

    Sedangkan filantropi modern sering disebut Filantropi untuk Pembangunan Sosial dan Keadilan Sosial merupakan bentuk kedermawanan sosial yang dimaksudkan untuk menjembatani jurang antara si kaya dengan si miskin. Jembatan tersebut diwujudkan dalam upaya mobilisasi sumber daya untuk mendukung kegiatan yang menggugat ketidakadilan struktur yang menjadi penyebab kemiskinan dan ketidakadilan. Dengan kata lain filantropi modern lebih “politis”.

    Dirangkum dari berbagai sumber, tak hanya di Indonesia, di negara lain juga ada banyak orang yang memiliki sifat dermawan atau disebut juga sebagai Filantropi. Salah satunya yaitu Bill Gates, ia telah menyumbang sebesar USD 27 miliar (Rp 378 triliun) bersama sang istri, Melinda. Pasangan ini mendirikan Bill dan Melinda Gates Foundation, sebagai sarana amal. Bill dan Melinda Gates Foundation adalah badan amal yang bergerak mengubah hidup melalui setiap aktivitas manusia dari menyelamatkan iklim, membasmi epidemi, memberikan makanan murah dan obat-obatan di semua benua.

    Terlepas dari dasarnya, Bill Gates secara pribadi mendukung bantuan bagi masalah lain di dunia, seperti anak dengan AIDS, kelompok olahraga, memberantas tunawisma, dan membantu korban kecanduan narkoba. Bill dan Melinda Gates bahkan diberi penghargaan medali dari Presiden Barrack Obama, pada 2016 atas kebaikan hati mereka melalui berbagai kegiatan filantropi yang mereka gagas.

    WINDA OKTAVIA

    Baca: Gerakan Filantropi dan Sedekah Makin Marak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.