Menkumham Yasonna Janji Revisi UU ITE Bakal Selesaikan Polemik Pasal Karet

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Maret 2021. Yasonna juga menyinggung soal isu terkini yang menjadi sorotan publik lainnya, seperti status kewarganegaraan Bupati Sabu Raijua Orient P Riwu Kore. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Maret 2021. Yasonna juga menyinggung soal isu terkini yang menjadi sorotan publik lainnya, seperti status kewarganegaraan Bupati Sabu Raijua Orient P Riwu Kore. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly berjanji bahwa revisi terbatas terhadap Undang -Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (revisi UU ITE) yang akan diajukan pemerintah bakal menyelesaikan polemik soal pasal karet yang selama ini dipermasalahkan dan memakan korban.

    "Soal UU ITE, revisi terbatas kita akan ajukan. Kita akan mempersempit, mempertegas supaya jangan karet dia, kita sudah sepakat itu, supaya jangan karet," kata Yasonna dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Rabu, 9 Juni 2021.

    Dengan demikian, ujar dia, revisi UU ITE akan meminimalkan terjadinya kasus saling lapor ditangani aparat seperti yang selama ini sering terjadi. Yasonna menyebut, pemerintah memilih opsi revisi terbatas sebab UU ITE masih diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan internet dan media sosial. "Ada survei yang mengatakan, Indonesia itu (pengguna) medsosnya termasuk level yang sangat brutal," tuturnya.

    Adapun beberapa pasal dalam UU ITE yang akan direvisi, yakni; Pasal 27, 28, 29, dan 36. Selain itu, akan ada penambahan satu pasal yakni 45C. Draf revisi saat ini sedang dikerjakan Kemenkumham untuk selanjutnya dibawa ke proses legislasi.

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud Md menyebut, revisi tidak akan memperluas substansi, melainkan memperjelas substansi. Salah satu substansi yang bakal diperjelas misalnya mengenai ujaran kebencian.

    "Agar tidak ditafsirkan macam-macam, ya kita beri tahu, ujaran kebencian itu apa. Misalnya mendistribusikan informasi, sekarang ditambah, mendistribusikan dengan maksud diketahui umum. Kalau pribadi ke pribadi, tidak bisa termasuk pencemaran, tidak bisa dihukum," ujar Mahfud, kemarin.

    "Jadi, revisi itu menambah kalimat, memperjelas maksud dari istilah yang dalam UU tersebut," lanjut Mahfud.

    Selain ujaran kebencian, revisi UU ITE juga akan mencakup sejumlah substansi lainnya yang berkaitan penyebaran berita bohong, perjudian online, kesusilaan, pencemaran nama baik, dan penghinaan.

    DEWI NURITA

    Baca: Revisi UU ITE, Mahfud MD Sebut Kiriman ke Pribadi Tidak Bisa Dihukum


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?