Peringatan 100 Tahun Soeharto, Titiek: Indonesia Sekarang Mundur

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putri Soeharto, Titiek Soeharto dan Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut) saat menghadiri peringatan 100 Tahun Soeharto di Masjid At-Tin, Kompleks TMII, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. TEMPO/Nurdiansah

    Putri Soeharto, Titiek Soeharto dan Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut) saat menghadiri peringatan 100 Tahun Soeharto di Masjid At-Tin, Kompleks TMII, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Putri dari Presiden kedua Indonesia Soeharto, Siti Hediati Heriyadi alias Titiek, mengatakan pembangunan di Indonesia malah mengalami kemunduran. 

    "Saya rasa bapak sedih kalau melihat keadaan kita seperti saat ini. Jadi apa yang beliau bangun kok kelihatannya enggak maju, agak sedikit mundur. Utang yang tadinya berapa, sekarang udah ribuan-ribuan triliun," kata Titiek dalam acara peringatan 100 tahun Soeharto, yang digelar di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Selasa, 8 Juni 2021.

    Titiek mengatakan acara peringatan ini juga untuk mengingatkan masyarakat Indonesia atas kiprah Soeharto. Ia juga menegaskan sepanjang hidupnya, ayahnya telah berjuang untuk bangsa ini agar terlepas dari kemiskinan dan kebodohan.

    Peringatan 100 tahun Soeharto ini menghadirkan hampir seluruh anak-anak Soeharto. Hanya Sigit Harjojudanto dan Siti Hutami Endang Hadiningsih alias Mamiek yang nampak tak hadir langsung karena berada di luar kota. Mereka mengikuti acara secara virtual.

    Sejumlah tokoh pun nampak hadir. Mulai dari Ketua MPR Bambang Soesatyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Politikus Partai Golkar Akbar Tandjung, hingga ulama Din Syamsudin.

    Sementara itu, Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, mengatakan awal Soeharto menjabat pada 1966, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 60 persen. Namun, ia mengklaim rezim orde baru atau orba mampu membangun ekonomi Indonesia tumbuh konstan di atas rata-rata 7persen per tahun.

    "Alhamdulillah kemiskinan berhasil ditekan sebesar 11 persen pada 1997. Penghargaan demi penghargaan dunia diterima Indonesia. Di antaranya 1985 Indonesia mendapatkan penghargaan dari FAO karena dinilai berhasil menciptakan swasembada beras," kata Tutut dalam sambutannya mewakili pihak keluarga dalam acara 100 tahun Soeharto ini.

    Baca juga: 100 Tahun Soeharto, Tutut Bicara Prestasi Pembangunan di Era Orba


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.