Bursa Capres 2024, Ranking Mahfud Md dan Survei Hiburan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD memberikan keterangan kepada wartawan setelah menyerahkan LHKPN di gedung KPK, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019. Mahfud mengatakan ada penambahan kekayaan yang terjadi, sejak terakhir kali ia melaporkan LHKPN pada 2013 lalu. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD memberikan keterangan kepada wartawan setelah menyerahkan LHKPN di gedung KPK, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019. Mahfud mengatakan ada penambahan kekayaan yang terjadi, sejak terakhir kali ia melaporkan LHKPN pada 2013 lalu. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan presiden 2024 memang masih jauh, namun dinamika politik belakangan ini mulai terlihat. Sejumlah lembaga survei pun telah merilis hasil sigi yang menunjukkan calon presiden potensial menuju Pilpres 2024. Salah satu yang masuk radar adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md.

    Pada Pilpres 2019 lalu, Mahfud nyaris menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo sebagai inkumben. Namun pada menit-menit terakhir keputusan berubah karena partai koalisi penyokong Jokowi menginginkan Ma'ruf Amin jadi cawapres. Setelah menang Pilpres, Jokowi menunjuk Mahfud mengisi posisi Menkopolhukam, yang sebelumnya diisi oleh Wiranto.

    Menuju Pilpres 2024, nama Mahfud kembali masuk radar. Ia berada di kandidat 10 besar versi sejumlah lembaga survei. Berdasarkan survei Charta Politik yang dirilis Maret lalu, dalam simulasi 12 nama, Mahfud berada di posisi ke delapan dengan 3,8 persen. Di bawahnya ada Menteri BUMN Erick Thohir 2,1 persen dan KSP Moeldoko 1,3 persen. Sementara itu, tiga menteri lain lebih unggul dari Mahfud yakni; Prabowo Subianto 19,6 persen; Sandiaga Uno 9,3 persen; Tri Rismaharini 5,3 persen. Adapun versi Puspoll Indonesia Mei lalu, elektabilitas Mahfud di peringkat 10 dari 22 tokoh capres potensial, dengan angka 1,8 persen.

    Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin menilai, Mahfud masih punya potensi dilirik partai. Namun, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu harus berusaha keras meningkatkan elektabilitas. "Apakah dia bisa memunculkan diri dan menaikkan elektabilitasnya, itu tergantung dari kinerja Mahfud sendiri. Jika tak bisa, maka akan hilang dari persaingan," ujar Ujang, Senin malam, 7 Juni 2021.

    Menurut Ujang, belakangan publik kurang menyukai Mahfud karena terlalu terdepan membela kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi. "Padahal publik banyak yang kecewa pada Jokowi. Makanya tak heran, survei Mahfud dalam hal capres pun kecil. Berbeda ketika 2019 yang lalu, dimana Mahfud Md sangat disukai publik dan hampir dipercaya menjadi cawapres," ujar dia.

    Adapun Mahfud sendiri pernah menyebut bahwa dirinya tak ambil pusing dengan hasil survei capres potensial menuju Pilpres 2024. "Survei itu untuk hiburan aja bukan diseriusi. Bagi saya survei-survei itu, apalagi sekarang, terlalu prematur," kata Mahfud, Februari lalu.

    Mahfud Md berujar tidak tertarik membahas lebih jauh soal survei elektabilitas. "Jadi saya tidak tahu sebenarnya saya ini masuk di ranking berapa, bahkan masuk atau tidak pun saya tidak tahu karena saya tidak ingin tahu juga. Kalau anda bilang saya masuk ke ranking sekian, ya, saya juga tidak tertarik untuk membahasnya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Ganda Putri Indonesia Masuk Semifinal Olimpiade Pertama dalam Sejarah

    Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, lolos ke semifinal badminton di Olimpiade 2020. Prestasi itu jadi tonggak olahraga Indonesia.