23 Tahun Soeharto Lengser, Apakah Keluarga Cendana Bisa Bangkit dalam Politik?

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati koleksi foto mantan presiden RI Soeharto yang merupakan bagian dari peluncuran buku foto

    Pengunjung mengamati koleksi foto mantan presiden RI Soeharto yang merupakan bagian dari peluncuran buku foto "Incognito Pak Harto" menjelang haul ke-92, di Jakarta, Rabu (5/6). ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta Ujang Komarudin menilai sulit bagi keluarga Cendana untuk bangkit dalam dunia politik. "Karena dinamika politik sudah berubah. Percaturan politik sudah berubah. Persepsi masyarakat juga berubah," kata Ujang kepada Tempo, Rabu, 19 Mei 2021.

    Ujang mengatakan, upaya keluarga Cendana bangkit di dunia politik setelah kejatuhan Soeharto, ditandai dengan munculnya Partai Karya Peduli Bangsa yang didirikan Hartono dan Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto. Namun, partai tersebut tidak mampu bersaing dan akhirnya hilang.

    Hari ini 23 tahun lalu, Soeharto mengundurkan diri dari posisinya sebagai Presiden setelah 32 tahun menjabat. Mundurnya Soeharto sebagai Presiden juga menjadi penanda jatuhnya keluarga Cendana dari percaturan politik.

    Ujang mengatakan upaya terakhir keluarga Cendana bangkit adalah dengan Partai Berkarya yang didirikan Tommy Soeharto. "Itu juga tidak lolos ke Senayan. Bahkan cenderung dikerjai oleh kekuasaan. Sehingga sempat dikudeta Muchdi Pr yang katakan lah ikut kubu pemerintah," ujarnya.

    Menurut Ujang, Tommy Soeharto juga beberapa kali bersaing dalam Munas Golkar, namun tidak pernah mendapatkan suara dan dukungan, serta tidak pernah dipilih menjadi Ketua Umum Golkar.

    Selain itu, jualan slogan Soeharto "Enak Zaman Ku toh" juga tidak terlalu berdampak. Ujang menilai, hal tersebut hanya membuat persepsi sementara atau jualan politik dari keluarga mereka.

    Ujang melihat, maraknya politik uang juga menjadi salah satu penyebab keluarga Cendana kini sulit bangkit di kancah perpolitikan nasional. Ujang mengatakan, saat ini sudah banyak partai politik yang menggunakan politik uang untuk bisa bersaing dan memenangkan kontestasi pemilu. Sehingga, masyarakat pun banyak diberikan pilihan dan tidak tersirep oleh kampanye "Enak zamanku toh".

    Supaya bisa eksis kembali, Ujang menyarankan agar keluarga Cendana hadir di tengah-tengah kesulitan publik. Seharusnya mereka menjadi antitesa atau pembeda di antara partai-partai lain. "Misalnya ada bencana mereka hadir membantu, menolong. Itu menjadi entry point ke rakyat. Kalau itu dilakukan serentak ke seluruh Indonesia ya akan membangun sebuah kekuatan baru," kata Ujang.

    Baca juga: Tommy Soeharto Gugat Rp 567 M ke Pemerintah Karena Tergusur dari Tol Desari


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.