PDIP Sebut Megawati Penggagas BRIN, Posisi Ketua Dewan Pengarah Dianggap Relevan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri memberikan pidato disaksikan Presiden Jokowi (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.TEMPO/Subekti.

    Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri memberikan pidato disaksikan Presiden Jokowi (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menempatkan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri ex officio sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional merupakan keputusan tepat. Hasto mengatakan riset dan inovasi harus digerakkan oleh ideologi bangsa.

    "Agar Indonesia benar-benar berdaulat, berdikari, dan bangga dengan jati diri kebudayaannya. BRIN adalah babak baru bagi kemajuan Indonesia Raya," kata Hasto dalam keterangan tertulis, Senin, 3 Mei 2021.

    Ketua Dewan Pengarah BPIP yang akan menjabat ex officio sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN ialah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Belakangan ini, penempatan tersebut dikritik lantaran dianggap tak relevan, bertentangan dengan semangat akademik, dan rentan konflik kepentingan mengingat besarnya pengaruh politik Megawati.

    Hasto mengatakan Megawati merupakan ketua umum partai politik yang paling konsisten menyuarakan pentingnya ilmu-ilmu dasar, riset dan inovasi, dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5 persen dari Produk Domestik Bruto.

    "Beliau juga penggagas awal dari BRIN, dengan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar BRIN hadir menjabarkan politik Indonesia Berdikari, dengan memfokuskan diri pada penelitian untuk manusia Indonesia, flora, fauna, dan teknologi itu sendiri. Semua dibumikan bagi tanah air Indonesia," kata Hasto.

    Menurut Hasto, sikap Megawati mengenai riset dan inovasi ini berangkat dari kepeloporan Bung Karno. Ia mengatakan Bung Karno memiliki perhatian menempatkan supremasi sains dan teknologi untuk kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat Indonesia serta sumbangsih Indonesia bagi dunia tersebut.

    Hasto menyebut hal ini tampak dari keseriusan Bung Karno menempatkan lebih dari 600 doktor peneliti saat merancang Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana. "Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh Bung Karno selalu ditempatkan dalam konteks kemajuan dan kejayaan Indonesia Raya," kata dia.

    Para pendiri bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta, Hasto melanjutkan, merupakan sosok pembelajar yang baik. Mereka disebutnya menempatkan konsep kemajuan Indonesia melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Para pendiri bangsa kental dengan tradisi sebagai pembelajar yang baik yang kedepankan riset dan inovasi," ucapnya.

    Maka dari itu, imbuh Hasto, PDI Perjuangan mendukung penuh keputusan Presiden Joko Widodo menempatkan BRIN sebagai infrastruktur kemajuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengethuan dan teknologi dengan menempatkan riset dan inovasi sebagai pilar Indonesia Berdikari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Alasan Batch CTMAV547 Vaksin AstraZeneca Dihentikan Pemerintah

    Pemerintah menghentikan penggunaan vaksin Astra Zeneca dengan batch CTMAV547 karena dua alasan. Padahal vaksin ini sempat didistribusikan secara luas.