Podcast Bareng Nadiem, Jokowi: Pandemi Koreksi Total Dunia Pendidikan Kita

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Nadiem Makarim (tengah) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020. Ia menegaskan jika dirinya telah meninggalkan perusahaan Gojek semenjak ditunjuk Presiden Jokowi sebagai menteri. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mendikbud Nadiem Makarim (tengah) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Februari 2020. Ia menegaskan jika dirinya telah meninggalkan perusahaan Gojek semenjak ditunjuk Presiden Jokowi sebagai menteri. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim berdialog dengan Presiden Republik Joko Widodo atau Jokowi dalam siniar (podcast) Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021.

    Dalam kesempatan tersebut, keduanya banyak membahas soal tantangan dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19. Jokowi menyampaikan bahwa pandemi harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi dunia pendidikan.

    “Koreksi total dunia pendidikan kita. Pandemi jangan jadi penghalang untuk mencapai kemajuan,” ujar Jokowi seperti ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Ahad, 2 Mei 2021.

    Nadiem setuju dengan Jokowi. Menurut dia, perlu banyak perubahan dalam di dunia pendidikan Indonesia yang dinilai masih banyak kekurangan. "Tapi karena pandemi menjadi jauh lebih jelas,” kata Nadiem.

    Nadiem menyebutkan beberapa aspek yang kini menjadi lebih jelas, yakni kesenjangan digital, akses internet yang tidak merata, akses terhadap guru berkualitas yang tidak merata, penganggaran yang mungkin tidak memprioritaskan daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T). “Kemendikbud melakukan perbaikan-perbaikan tersebut dengan berbagai terobosan Merdeka Belajar,” ujar Nadiem.

    Nadiem memaparkan soal Merdeka Belajar episode pertama, dimana salah satu dari empat pokok kebijkan yang diubah adalah digantinya Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional (AN).

    “Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, kita akan mengadakan survei karakter, dimana nilai-nilai Pancasila dapat kita ukur dan kuantifikasi per sekolah. Isu-isu seperti intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan dapat kita ukur dan menjadi salah satu program big data pertama Indonesia,” ujarnya.

    Nadiem juga bercerita tentang Merdeka Belajar episode kedua: Kampus Merdeka, Merdeka Belajar episode ketiga, dimana skema dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dinilai semakin tepat sasaran, Merdeka Belajar episode kelima: Guru Penggerak, dan Merdeka Belajar episode keenam: Transformasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi.

    Jokowi menekankan bahwa Indonesia adalah negara besar sehingga kebutuhannya pasti beragam. Menanggapi hal tersebut, Nadiem menyebut sudah menjalankan pesan Jokowi kepada dirinya bahwa keseragaman belum tentu keadilan.

    Untuk itu, Nadiem mengeluarkan Merdeka Belajar episode Kesembilan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Merdeka dan dana BOS majemuk.

    Jokowi kemudian memuji bahwa kebijakan-kebijakan Merdeka Belajar sangat baik. “Bagus sekali. Inilah perubahan. Inilah lompatan yang sudah lama ingin kita lakukan,” ujarnya.

    Baca juga: Jokowi Ingin Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Lebih Sesuai Pasar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.