Pemerintah Targetkan Asuransi Tani di GunungKidul Untuk Antisipasi Gagal Panen

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemerintah Targetkan Asuransi Tani di GunungKidul Untuk Antisipasi Gagal Panen | Foto: dok. Kementan

    Pemerintah Targetkan Asuransi Tani di GunungKidul Untuk Antisipasi Gagal Panen | Foto: dok. Kementan

    GUNUNGKIDUL - Selama ini pemerintah menggulirkan program asuransi tani untuk mengantisipasi kerugian besar saat terjadi gagal panen. Meski minat petani terhadap asuransi pertanian belum banyak, Dinas Pertanian dan Pangan terus berupaya mensosialisasikan program ini ke masyarakat. Tahun ini pemerintah menargetkan kepesertaan asuransi mencapai 500 hektare.

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, jika ikut asuransi, petani akan tenang dalam menghadapi kondisi buruk. Apalagi, Kementan bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) telah meluncurkan aplikasi Proteksi Pertanian (Protan) untuk memudahkan petani daftar atau klaim asuransi.

    “Petani harus selalu mengantisipasi kemungkinan yang terjadi di lahan pertanian. Utamanya yang bisa menyebabkan gagal panen. Kondisi gagal panen bisa membuat petani merugi. Namun, kondisi tersebut bisa diatasi dengan asuransi,” kata Mentan SYL, Senin, 19 April 2021.

    Mentan Syahrul menyambut baik terobosan yang dilakukan untuk membantu petani. Menurutnya, sosialisasi door to door akan lebih efektif agar petani lebih memahami pentingnya asuransi pertanian. "Pertanian dalam kondisi cuaca yang tidak menentu. Petani harus disadarkan pentingnya asuransi pertanian agar terhindar dari kerugian,” kata Mentan Syahrul.

    Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy mengatakan, Protan sangat membantu petani dan mempermudah dalam mengurus asuransi. Lewat aplikasi Protan ini, proses pendaftaran hingga klaim bisa dilakukan dengan mudah.

    "Asuransi adalah bagian penting untuk melindungi petani dari kerugian. Asuransi bisa memberikan ganti rugi saat lahan pertanian mengalami gagal panen. Ada klaim yang diberikan, sebesar Rp 6 juta/hektare (ha). Klaim ini bisa dimanfaatkan petani untuk tanam kembali,” ujar Sarwo Edhy.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan salah satu faktor yang mempengaruhi asuransi tani minim peminat asalah persyaratan yang mengharuskan kondisi lahan berupa padi sawah lengkap dengan saluran irigasi. “Di Gunungkidul ada 48.104 hektare sedangkan kepesertaan asuransi berkisar 100 hektar sampai 200 hektar dalam setahunnya,” kata Raharjo Yuwono.

    Lebih lanjut ia mengungkapkan, persyaratan itu sulit terpenuhi. Sebab mayoritas lahan di Gunungkidul adalah sawah tadah hujan. Kurangnya minat petani untuk ikut program ini juga disebabkan kondisi tanaman yang jauh dari serangan hama. Sedangkan, dari sisi potensi kekeringan juga kecil karena pasokan air yang tersedia hampir di sepanjang tahun. “Iya peminatnya masih sangat kecil,” tambahnya.

    Menurutnya, dengan mengikuti asuransi tani ini dapat memberikan keuntungan bagi petani. Dengan membayar premi yang telah ditentukan, maka petani mendapatkan ganti sebesar 6 juta pada saat terjadi kegagalan panen yang disebabkan karena bencana maupun serangan hama. Dijelaskan untuk asuransi tani yang disubsidi pemerintah biaya premi per hektarnya sebesar Rp 36.000. Sedangkan untuk reguler lebih mahal Rp 136.000 per hektar.

    "Sejauh ini meski telah mengikuti asuransi akan tetapi belum ada petani Gunungkidul yang meminta klaim dari program pemerintah ini," pungkasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.