RSPAD Sepakat dengan BPOM Buat Penelitian Berbasis Sel Dendritik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri puncak Latihan Antar Kecabangan TNI AD Kartika Yudha Tahun 2020 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AD Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Kamis 26 November 2020. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri puncak Latihan Antar Kecabangan TNI AD Kartika Yudha Tahun 2020 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AD Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Kamis 26 November 2020. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dipastikan akan menjadi pusat penelitian berbasis pelayanan menggunakan sel dendritik, yang ditujukan untuk meningkatkan imunitas terhadap Covid-19. Hal ini dipastikan setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito menandatangani Nota Kesepahaman, Senin, 19 April 2021, di Mabes TNI Angkatan Darat, Jakarta Pusat.

    Dilansir dari keterangan tertulis Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, penandatanganan tersebut disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhajir Effendy.

    "Selain mempedomani kaidah penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan, juga bersifat autologus yang hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri sehingga tidak dapat dikomersialkan dan tidak diperlukan persetujuan izin edar," tulis keterangan tersebut.

    Dalam keterangan itu, ditegaskan pula bahwa penelitian ini bukan merupakan kelanjutan dari penelitian Vaksin Nusantara, yang penelitiannya juga dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto. Vaksin Nusantara pun menggunakan sel dendritik sebagai dasar pembuatannya.

    "Uji Klinis Fase 1 yang sering disebut berbagai kalangan sebagai program Vaksin Nusantara ini masih harus merespon beberapa temuan BPOM yang bersifat Critical & Major," kata keterangan tersebut.

    Sebelumnya, Vaksin Nusantara yang diinisiasi oleh Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, penelitiannya menuai kritik karena tak dianggap BPOM memenuhi kaidah ilmiah. Meski tak mendapat restu BPOM, penelitian vaksin yang bekerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat, AIVITA Biomedical, itu tetap dilanjutkan.

    Hari ini, di tempat terpisah, Mabes TNI memastikan bahwa proyek Vaksin Nusantara bukan merupakan program Mabes TNI. Meski begitu, mereka menyebut siap mendukung setiap penelitian dan inovasi Covid-19 akan mereka dukung, asalkan sesuai kaidah ilmiah.

    "TNI akan selalu mendukungnya. Dengan catatan telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan," kata Riad dalam konferensi pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 19 April 2021.

    Baca: Kata RSPAD soal Adanya Kejadian Tak Diinginkan di Penelitian Vaksin Nusantara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H