NasDem Minta Jokowi Tengahi Kisruh Vaksin Nusantara

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Okky Asokawati. TEMPO/Imam Sukamto

    Okky Asokawati. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP Bidang Kesehatan Partai NasDem Okky Asokawati meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi turut campur menengahi kisruh vaksin Nusantara versus Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    Okky berharap polemik ini tidak dibiarkan berlarut-larut. "Saya kira Presiden dapat memanggil pihak-pihak yang berpolemik untuk segera menghentikan polemik ini dan mendudukkan perkara ini secara jelas, terang dan transparan. Berbagai spekulasi yang muncul di publik juga agar segera berhenti," ujar Okky lewat keterangan tertulis, Senin, 19 April 2021.

    Ia berharap pihak-pihak yang berpolemik dapat menahan diri untuk memberikan pernyataan yang justru membingungkan publik. Dia mendorong urusan kesehatan agar ditempatkan pada porsi yang tepat.

    "Mari kita tempatkan ranah kesehatan pada porsi yang tepat, bukan justru membangun narasi yang tensinya justru pada urusan politis berupa mobilisasi dukungan," tuturnya.

    Vaksin Nusantara pertama kali dikenalkan pada November lalu oleh Terawan Agus Putranto ketika masih menjabat Menteri Kesehatan. Riset pengembangan vaksin berbasis sel dendritik ini dilakukan melalui kerja sama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan dengan PT Rama Emerald Multi Sukses.

    Rama Emerald merupakan pemegang lisensi dari Aivita Biomedical Inc, perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat, pengembang terapi sel dendritik SARS-CoV-2. Meski BPOM belum memberikan izin uji klinis tahap kedua, tim peneliti tetap memulai penyuntikan vaksin Nusantara kepada relawan sejak pekan lalu. Polemik ini pun memantik aksi dukung-mendukung terhadap Vaksin Nusantara versus BPOM.

    Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mengatakan tim peneliti vaksin Nusantara mestinya terlebih dahulu melakukan perbaikan seperti yang direkomendasikan BPOM. Ia mengatakan keputusan BPOM--sebagai lembaga yang memiliki otoritas mengontrol keamanan produk makanan dan obat, termasuk vaksin--harus dihormati.

    "Bukannya mbalelo, meneruskan, padahal sudah jelas secara prosedural tidak sesuai. Ya sementara dihentikan dulu dan perbaiki," kata Windhu.

    Dia mengingatkan, politikus tak boleh mengintervensi riset ilmiah apalagi merundung BPOM dengan tuduhan tak memiliki nasionalisme.

    DEWI NURITA | BUDIARTI UTAMI PUTRI

    Baca: Nasionalisme Kebablasan Vaksin Nusantara Besutan Terawan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H