Anggota DPR Nilai Hubungan BPOM dan Peneliti Vaksin Nusantara Tak Harmonis

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Maret 2021. Namun, dalam kesempatan yang sama, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan lampu hijau terkait Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis atau PPUK uji klinis II dan III vaksin Nusantara yang diprakarsai Terawan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 10 Maret 2021. Namun, dalam kesempatan yang sama, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan lampu hijau terkait Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis atau PPUK uji klinis II dan III vaksin Nusantara yang diprakarsai Terawan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR Emanuel Melkiades Laka Lena menuturkan komunikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan peneliti vaksin Nusantara tidak harmonis sejak penelitian di RS Kariadi, Semarang.

    "Kesan saya antara peneliti dan Badan POM ini hubungannya tidak harmonis komunikasinya," kata Melki dalam diskusi Polemik Trijaya, Sabtu, 17 April 2021.

    Melki mengatakan, menurut peneliti, informasi dan data yang diminta BPOM telah diberikan. Namun, menurut BPOM, data tersebut belum sesuai yang diharapkan dan memenuhi yang direkomendasikan.

    "Saat itu, kami minta agar data yang diminta Badan POM segera disahkan. Kami jadi saksi," ujarnya.

    Karena adanya ketidakharmonisan itu, Melki meminta agar pembicaraan lebih lanjut terkait pengembangan vaksin Nusantara dilanjutkan di Komisi Kesehatan DPR.

    Diskusi di DPR pun terealisasi pada 10 Maret 2021 dengan mengundang pihak BPOM, para peneliti vaksin Nusantara yang terlibat termasuk dari Amerika Serikat, dan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto selaku inisiator. DPR juga mengundang dua ahli, yaitu Kepala Lembaga Eijkman Amin Subandrio dan Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin, Prof Dr Chairul Anwar Nidom.

    Baca juga: Tak Hanya Vaksin Nusantara, Metodologi Cuci Otak Terawan Juga Dipertanyakan

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.