Larangan Mudik, Doni Monardo: Jangan Ada yang Keberatan atau Menyesal Nanti

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BNPB Doni Monardo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 22 September 2020. Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengumumkan dirinya positif tertular virus corona menyusul aktivitas padat dalam sepekan terakhir memimpin penanggulangan bencana gempa bumi Sulawesi Barat dan banjir Kalimantan Selatan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Kepala BNPB Doni Monardo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 22 September 2020. Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengumumkan dirinya positif tertular virus corona menyusul aktivitas padat dalam sepekan terakhir memimpin penanggulangan bencana gempa bumi Sulawesi Barat dan banjir Kalimantan Selatan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta masyarakat memahami dan tidak keberatan dengan larangan mudik Lebaran. Ia berharap tidak ada penularan Covid-19 selama Lebaran dan muncul penyesalan. 

    "Kita tidak ingin pertemuan silaturahmi berakhir dengan hal yang sangat tragis. Kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Kehilangan orang-orang yang kita cintai. Jangan sampai terjadi,” kata Doni, Sabtu, 17 April 2021.

    Doni tak berhenti mengingatkan masyarakat agar tidak mudik pada Hari Raya Idul Fitri karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Di sisi lain potensi penularan dari mobilitas manusia pada hari raya dan libur nasional sangat tinggi. "Tidak mudik. Dilarang mudik," ujar Doni.

    Pemerintah, lanjut Doni, tidak ingin pertemuan keluarga atau silaturahmi berujung kepada meningkatnya kasus Covid-19 atau malah bertambahnya angka kematian akibat Covid-19. “Jangan ada yang keberatan. Menyesal nanti," kata Doni.

    Doni meminta seluruh pemerintah daerah, termasuk tokoh adat dan tokoh agama, agar tak berhenti memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat. Sehingga larangan mudik Idul Fitri di 2021 dapat diikuti dan terlaksana dengan baik.

    Dia menuturkan masih ada 17 persen masyarakat Indonesia yang sampai sekarang tidak percaya adanya Covid-19. Mereka menganggap hal itu rekayasa dan konspirasi.

    Doni menegaskan masyarakat harus memahami larangan mudik Lebaran tak sebatas pada penentuan tanggal atau waktu. Kendati pemerintah melarang mudik pada 6-17 Mei 2021, bukan berarti sebelum atau sesudah itu mudik dibolehkan. "Jadi kalau dilarang mudik, itu bukan berarti sebelum tanggal 6 bisa pulang kampung," ujar Doni.

    Doni Monardo mengatakan konteks aturan larangan mudik untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 yang berpotensi dibawa masyarakat dari satu daerah ke daerah lain. "Mobilisasi orang dari suatu daerah ke daerah lain dalam jumlah yang besar itu sama dengan menimbulkan potensi, mengantarkan Covid-19 ke daerah yang landai," ujarnya.

    Baca juga: Ramadan 2021, Ini Dua Alasan Besar Jokowi Melarang Mudik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.