3 Alasan Ketua Fraksi PAN Ikut Suntik Uji Klinis Vaksin Nusantara

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional Saleh Partaonan Daulay saat memberikan pernyataan media dalam peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional Saleh Partaonan Daulay saat memberikan pernyataan media dalam peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota DPR dari Komisi Kesehatan, Saleh Partaonan Daulay, mengungkapkan alasannya bersedia mengikuti vaksinasi dengan Vaksin Nusantara. Alasan pertama, ia menyatakan, sudah berdiskusi dengan para peneliti vaksin tersebut, baik asal Indonesia dan Amerika Serikat.

    "Saya mendapatkan penjelasan utuh terkait vaksin nusantara.. Dan saya percaya bahwa vaksinasi ini sangat baik dan efektif dalam rangka meningkatkan imunitas," kata Saleh dalam keterangannya, Rabu, 14 April 2021.

    Alasan berikutnya, Saleh mengaku sudah berbicara dengan orang-orang yang pernah divaksin dengan Vaksin Nusantara. Menurut mereka, vaksin tersebut dapat dikatakan tidak memiliki efek samping. Sementara, efektivitasnya sangat baik.

    "Setelah divaksin, mereka mengukur tingkat imunitas mereka. Terbukti, tingkat imunitas mereka naik cukup tinggi. Mereka lalu merekomendasikan vaksin ini kepada orang lain, termasuk kepada saya," ujarnya.

    Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional ini melihat Vaksin Nusantara sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Apalagi, kata dia, Presiden Jokowi sudah meminta agar Indonesia mengutamakan produk dalam negeri. "Nah, vaksin nusantara ini harus menjadi salah satu contoh produk dalam negeri yang perlu mendapatkan dukungan dan perhatian pemerintah," katanya.

    Alasan lainnya, Saleh menuturkan, vaksinasi dengan Vaksin Nusantara ini dilakukan terbatas. Karena itu, tidak melanggar ketentuan apa pun. Ia berharap dengan melakukan vaksinasi ini, BPOM akan lebih mudah memberikan berbagai macam izin yang dibutuhkan.

    "Kita berani jadi contoh. Berani untuk divaksin lebih awal. Saya melihat, para peneliti dan dokter-dokter yang bertugas semuanya ikhlas. Tidak ada muatan politik sedikit pun," ujarnya.

    Saleh juga berharap kedaulatan dan kemandirian Indonesia dapat terjamin dalam bidang kesehatan dan pengobatan. Ia yakin, momentum Covid-19 bisa menjadi pintu masuk kemandirian tersebut. Apalagi, sejumlah negara penghasil vaksin sedang melakukan embargo. Akibatnya, jadwal program vaksinasi di Indonesia terhambat.

    Sebelumnya, BPOM mengatakan vaksin Nusantara belum bisa lanjut ke tahap uji klinis selanjutnya karena beberapa syarat belum terpenuhi diantaranya Cara Uji Klinik yang Baik (Good Clinical Practical), Proof of Concept, Good Laboratory Practice dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (Good Manufacturing Practice).

    Baca juga: Vaksin Nusantara Belum Lolos Uji Klinis, BPOM: Kami Tak Pernah Pilih Kasih

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.