Cerita Warga Sulitnya Evakuasi Korban Banjir Bandang dan Longsor di NTT

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga duduk di atas mobil yang rusak akibat banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 6 April 2021. Cuaca ekstrem akibat siklon tropis Seroja telah memicu bencana alam di sejumlah wilayah di NTT dan mengakibatkan rusaknya ribuan rumah warga dan fasilitas umum. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Sejumlah warga duduk di atas mobil yang rusak akibat banjir bandang di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 6 April 2021. Cuaca ekstrem akibat siklon tropis Seroja telah memicu bencana alam di sejumlah wilayah di NTT dan mengakibatkan rusaknya ribuan rumah warga dan fasilitas umum. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Bau tak sedap masih menyeruak di beberapa titik lokasi pencarian korban banjir bandang di Desa Lamanele, Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proses evakuasi terhadap warga yang menjadi korban longsor Gunung Ile Buleng sudah memasuki hari keempat.

    "Ada bau ini di sini. Cepat sini, gali di sini," teriak salah satu penduduk dari Desa Muda, Adonara Timur, Hugosius (43 tahun) yang ikut dalam pencarian korban hilang di Desa Lamanele, Kamis, 8 April 2021.

    Satu unit alat berat jenis ekskavator milik salah satu kontraktor perumahan di dekat lokasi ikut membantu mencari korban sejak Selasa kemarin. Lalu ada sekitar tujuh orang berseragam oranye dengan tulisan Basarnas turut mencari korban. Tak ketinggalan, anggota polisi tampak membawa seekor anjing pelacak dan menyisir bau tak sedap di lokasi longsor.

    Beberapa keluarga korban menyisir satu per satu puing bangunan mengikuti sumber bau tak sedap yang mereka rasakan. "Bisa juga bau ini hewan yang mati seperti anjing atau babi. Tapi beberapa kali kami gali ketemu tangan orang. Sudah dua kali kami evakuasi korban di sini," kata Hugosius.

    Alat berat tampak bergerak menyisir satu per satu timbunan tanah untuk dikeruk dan memindahkan batu beraneka ukuran. Tiga dari lima mata di ujung alat keruk ekskavator terlihat patah saat mencoba memindahkan batu berukuran besar dari atas rumah penduduk.

    "Batu yang paling besar ada beberapa seukuran ruang dapur. Kalau yang sedang bisa ratusan dan yang kecil seukuran kepala orang bisa sampai ribuan jumlahnya," ujar Hugosius.

    Desa Lamanele berada di kaki Gunung Ile Boleng yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan menuju gunung ke arah utara. Longsor yang terjadi Ahad, 4 April 2021 itu menerjang permukiman dengan populasi sekitar 200 jiwa.

    Hugosius yang menetap di sebelah Desa Lamanele mengatakan ribuan batu dari Gunung Ile Buleng secara tiba-tiba menabrak seluruh benda yang dilintasi. Batu menerjang puluhan rumah penduduk di Desa Lamanele yang kini terkubur tanah dan batu.

    Data yang dihimpun dari Posko Basarnas melaporkan dari total 56 penduduk Desa Lamanele yang dinyatakan hilang, tinggal satu di antaranya belum ditemukan. Sebanyak 55 penduduk telah dinyatakan meninggal dan dimakamkan secara massal di perkebunan singkong di dekat lokasi kejadian banjir bandang di NTT.

    Baca juga: Jokowi Diminta Turun Langsung Tinjau Lokasi Banjir Bandang di NTT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.