Jelaskan Cuaca Ekstrem di NTT, BMKG Ingatkan Bahaya Perubahan Iklim

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Dwikorita Karnawati (ketiga dari kiri) dan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono (kedua dari kiri) saat menggelar konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Jumat 15 November 2019. BMKG menggelar konferensi pers terkait gempa berkekuatan 7,1 magnitudo dan berpotensi tsunami di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Tempo/Dias Prasongko

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Dwikorita Karnawati (ketiga dari kiri) dan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono (kedua dari kiri) saat menggelar konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Jumat 15 November 2019. BMKG menggelar konferensi pers terkait gempa berkekuatan 7,1 magnitudo dan berpotensi tsunami di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan bahaya perubahan iklim global yang saat ini tengah terjadi. Perubahan ini yang menurut dia ikut menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur. Kejadian itu memicu terjadinya bencana banjir bandang.

    "Jadi perubahan iklim global itu nyata. Ditandai dengan semakin meningkatnya suhu udara, baik di udara ataupun di air laut," kata Dwikorita dalam konferensi pers daring, Senin, 5 April 2021.

    Dwikorita mengatakan cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada dasarnya terjadi karena suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudera Hindia di dekat Indonesia. Data dari BMKG menunjukkan suhunya mencapai 29 derajat celcius atau jauh lebih tinggi dari suhu rata-rata, yakni 26,5 derajat celcius.

    "Ini ada kenaikan lebih dari 2 derajat celcius. Itu sangat signifikan untuk kondisi cuaca," kata Dwikorita.

    Selain itu, ia mengatakan, suhu udara di lapisan atmosfer menengah pada tekanan 500 milibar juga semakin hangat, hingga lebih dari 7 derajat celcius. Kedua hal itu, kata Dwikorita, meningkatkan kelembaban udara dan mengakibatkan tekanan udara pada zona yang suhunya semakin hangat tersebut tekanannya menjadi rendah dibanding sekitarnya.

    Dwikorita mengatakan hal ini sebenarnya jarang terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Namun sejak 5 hingga 10 tahun terakhir, menurut dia, kejadian siklon tropis itu semakin sering terjadi.

    "Bahkan di 2017, dalam satu minggu terjadi 2 kali. Hal ini menunjukkan dampak perubahan iklim global itu harus benar-benar segera kita antisipasi. Itulah kenapa terjadi siklon tropis," kata Dwikorita.

    Ia mengatakan saat ini, siklon itu sudah semakin menjauh dari wilayah Indonesia. Hingga pukul 18.00 WIB, Senin, 5 April 2021, Dwikorita mengatakan posisinya sudah bergerak ke arah Barat Daya. Atas dasar ini, ia memprediksi pada 6 April mendatang pengaruh dari siklon ini sudah semakin melemah karena jaraknya semakin jauh.

    "Meski hari ini mengalami peningkatan, mencapai 35 kilometer/jam saat terjadi siklon, hari ini bisa mencapai 85 kilometer/jam. Yang sekarang perlu diwaspadai adalah angin kencangnya selain juga ada hujannya," kata Kepala BMKG.

    Baca juga: BMKG Prediksi Siklon Tropis Seroja Menguat: Waspada Hujan Lebat Disertai Angin


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto