Pengungsi Banjir Bandang di Lembata NTT Kekurangan Bantuan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu, 4 April 2021. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Flores Timur sebanyak 23 warga meninggal dunia akibat banjir bandang yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada minggu dini hari. ANTARA FOTO/HO/Dok BPBD Flores Timur

    Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu, 4 April 2021. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Flores Timur sebanyak 23 warga meninggal dunia akibat banjir bandang yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada minggu dini hari. ANTARA FOTO/HO/Dok BPBD Flores Timur

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Lembata di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu daerah yang terdampak banjir bandang di NTT pada Ahad, 4 April 2021.

    "Untuk saat ini bantuan belum ada sama sekali karena terhambat kondisi laut. Setahu saya belum ada kapal masuk dari luar," ujar Noni, salah satu relawan dari Yayasan Plan Indonesia, yang ada di lokasi kejadian, saat dihubungi Tempo, Senin, 5 April 2021.

    Noni mengatakan saat ini, bantuan masih bertumpu pada uluran tangan masyarakat sekitar dan keluarga korban yang tak ikut terdampak bencana banjir.

    Para pengungsi, saat ini lebih banyak dipusatkan di Kantor Lurah di Lewoleba, dan Kantor Camat Ile Ape.

    Para pengungsi, kata dia, membutuhkan bantuan makanan dan minuman. Selain itu, yang juga darurat dibutuhkan adalah pakaian layak pakai untuk anak-anak. Termasuk bagi anak perempuan pakaian dalam, pembalut, selimut, tikar, hingga alat tidur. "Karena mereka tidur di lantai saja dengan alat tidur seadanya," kata Noni.

    Noni mengatakan banjir bandang terjadi pada dini hari waktu setempat. Cuaca ekstrim membuat banjir melanda daerah di pulau tersebut. Wilayah yang paling parah terdampak, ada di pesisir pantai yang berada di bawah bukit Gunung Ile Lewotolok yang baru saja erupsi pada November 2020 lalu.

    Banjir bandang akhirnya membawa sebagian bebatuan besar dari bukit ke arah pemukiman warga. Menurut Noni, hal ini lah yang membuat wilayah tersebut hancur.

    "Ada sebagian masyarakat mengira itu bunyi dari gunung itu. Selama ini kan gempa tektoniknya kan sering. Jadi banyak batu-batuan di kaki gunung sudah ga kuat dan sangat rawan tanahnya. Makanya ada yang bilang ini lahar dingin, ada yang bilang banjir bandang.” kata Noni.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan data korban jiwa bencana alam di NTT per Ahad petang sebanyak 41 orang. Jumlah korban masih terus bertambah seiring pencarian yang masih dilakukan.

    Baca juga: Walhi Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat Bencana NTT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.