Ma'ruf Amin: Pola Pikir Terorisme Hambat Pembangunan Peradaban Islam

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjadi khotib salat Jumat di Masjid Istana Wapres, Jakarta, 12 Juni 2020. KIP Setwapres

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjadi khotib salat Jumat di Masjid Istana Wapres, Jakarta, 12 Juni 2020. KIP Setwapres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendorong para da'i di Indonesia agar tak memiliki pemikiran yang sempit. Ia mengatakan pemikiran seperti itu hanya memunculkan sifat egosentris, tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog.

    Cara berpikir sempit, kata Ma'ruf, juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

    "Contoh paling aktual dari cara berfikir radikal terorisme yang menyimpang itu adalah peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021," kata Ma'ruf dalam sambutannya di acara Webinar IKADI-BNPT, Ahad, 4 April 2021.

    Ia mengatakan tindakan ini tidak sesuai dengan ajaran islam karena islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak (ikrahiyyan) di dalam dakwahnya dan dalam memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan. Padahal Islam seharusnya mengajarkan cara-cara yang santun dan dilakukan dengan cara-cara nasihat yang baik, serta berdialog dengan cara-cara yang terbaik.

    "Cara berpikir sempit seperti itu menghambat dan kontraproduktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan bidang lainnya," kata Ma'ruf.

    Ma'ruf mengatakan cara berpikir Islami adalah cara berpikir yang moderat dan dinamis. Artinya, pemahaman terhadap sesuatu tak bisa semata-mata secara tekstual/statis dan menolak perkembangan ilmu pengetahuan. Namun Ma'ruf juga mengatakan pemahaman tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengabaikan motivasi agama.

    "Maksudnya disini tidak berpikir secara liberal. Dengan demikian cara berpikir Islami itu tidak tekstual dan tidak liberal (la tektualiyan wala liberaliyan) tetapi moderat (wasathiyan/ tawassuthiyan)," kata Ma'ruf.

    Karena itu, Ma'ruf mendorong agar para pendakwah terus mengajarkan tentang moderasi beragama. Termasuk di antaranya dengan mengembangkan sikap toleran, yaitu perilaku yang menerima dan menghargai keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan. Selain itu, ajaran anti kekerasan juga harus terus digaungkan.

    "Para da’i juga diharapkan dapat menjadi kekuatan komunitas, yang mampu mendeteksi dini dan mengeliminasi pola pikir intoleran, egosentris kelompok, dan gerakan yang mengarah pada kekerasan (radikal)," kata Ma'ruf Amin.

    Baca juga: Eks Napi Terorisme Ungkap Perubahan Tren Pelaku Teror


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.