Kementerian PPPA Ingatkan Perempuan Rentan Terpapar Aksi Terorisme

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis, 4 Februari 2021. ANTARA/Abriawan Abhe

    Tim gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis, 4 Februari 2021. ANTARA/Abriawan Abhe

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengingatkan kerentanan perempuan terjerumus ke dalam aksi terorisme. Hal ini menanggapi dua aksi teror yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri di Jakarta yang melibatkan perempuan.

    "Adanya fenomena peningkatan pelibatan perempuan dalam aksi radikalisme dan terorisme menunjukkan perempuan lebih rentan terlibat dalam persoalan ini," kata Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian PPPA, Ratna Susianawati, dalam keterangan tertulis, Ahad, 4 April 2021.

    Menurut dia, hal itu disebabkan karena faktor sosial, ekonomi, perbedaan pola pikir, serta adanya doktrin yang terus mendorong bahkan menginspirasi para perempuan.

    Kerentanan dan ketidaktahuan perempuan, kata Ratna, menjadi sasaran masuknya pemahaman dan ideologi menyimpang. Selain itu, ia menilai keterbatasan akses informasi yang dimiliki dan keterbatasan untuk menyampaikan pandangan dan sikap, juga turut menjadi faktor pemicu.

    "Di sinilah pentingnya ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik untuk membangun karakter anak dengan menginternalisasi nilai-nilai sesuai norma hukum, adat, agama, dan budaya," ujar Ratna.

    Ratna menilai ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik, sangat dibutuhkan sebagai pondasi dan filter dalam pengasuhan anak di keluarga. Terlebih di tengah kemajuan teknologi dan informasi serta beragamnya modus-modus kejahatan baru, hal ini menjadi lebih krusial.

    Saat ini, Ratna mengatakan, orang tua harus bisa menjalankan sejumlah fungsi. Mulai dari menjalin hubungan baik dengan anak, mengawasi dan mengontrol anak, memberikan edukasi, menerapkan pola komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami, menerapkan pola pengasuhan dengan kesiapsiagaan, hingga mendeteksi risiko.

    "Karena banyak perempuan yang tidak tahu apa saja resiko yang akan ia hadapi, mengingat minimnya pengetahuan," kata Ratna menanggapi aksi terorisme di Mabes Polri yang melibatkan perempuan.

    Baca juga: Peneliti LP3ES Jelaskan Alasan Perempuan yang Terlibat Terorisme Lebih Aktif


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.