BIN Duga Pelaku Penyerangan Mabes Polri Terpapar Radikalisme 1-6 Bulan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penjagaan Mabes Polri usai diserang oleh orang yang diduga teroris di Jakarta, Rabu, 31 Maret 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Suasana penjagaan Mabes Polri usai diserang oleh orang yang diduga teroris di Jakarta, Rabu, 31 Maret 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi VII Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto memperkirakan teroris lone wolf seperti ZA, pelaku penyerangan di Mabes Polri, terpapar paham radikal dalam waktu 1-6 bulan sebelum melakukan aksi teror.

    "Antara 1-6 bulan mereka biasanya sudah tergerak (melakukan aksi teror)," kata Wawan dalam diskusi Polemik, Sabtu, 3 April 2021.

    Lone wolf adalah istilah untuk teroris yang bergerak sendiri, tanpa masuk dalam jaringan teroris.

    Wawan menjelaskan, lone wolf bisa lebih cepat tergerak melakukan aksi teror karena melihat satu kejadian dan tidak terima atas kejadian itu. Sehingga, lone wolf akan lebih emosional dan menyerang apa saja tanpa persiapan yang cukup. Misalnya, mempelajari formasi tempur sebelum beraksi.

    Menurut Wawan, aksi teror ZA pada Ahad lalu dilakukan tanpa mempelajari formasi tempur. "Dia hanya menembak tanpa perlindungan, tanpa mengendap di tempat-tempat yang bisa membuat dia bertahan kalau ada serangan balik," ujarnya.

    Wawan melihat ZA cenderung menyerang di tempat terbuka dan mempersilakan diri untuk ditembak atau mati. "Jadi lebih kepada emosi yang meledak ingin cepat masuk surga 'silakan tembak saya'. Beda dengan formasi tempur," ujarnya.

    Dalam latihan menembak, ujar Wawan, formasi tempur bisa dilakukan dengan hit and run, kemudian roll, perlindungan gorong-gorong, tiarap, formasi pengalihan tembakan, lari zig zag untuk menghindari tembakan lawan. Langkah-langkah tersebut, kata Wawan, tidak nampak dalam aksi yang dilakukan ZA saat menyerang Mabes Polri.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.