Pengamat Jelaskan Anak Muda Bisa Terjerat Jaringan Terorisme

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis, 4 Februari 2021. ANTARA/Abriawan Abhe

    Tim gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis, 4 Februari 2021. ANTARA/Abriawan Abhe

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat terorisme Sidney Jones melihat keterlibatan generasi muda dalam terorisme bukan sesuatu yang baru. Menurut Sidney, sejak Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) muncul, banyak anak muda tertarik bergabung dengan gerakan yang menuntut khilafah tersebut.

    "Dan bukan di Indonesia saja. Di banyak negara lain juga, termasuk negara barat," ujar Sidney saat dihubungi pada Jumat, 2 April 2021.

    Sidney mengatakan, dengan berbagai alasan, generasi muda ini akhirnya mau terlibat dengan terorisme. Ia menyebutkan ada yang tertarik dengan video ISIS yang tampak heroik, ada yang yakin akhir zaman sudah dekat, atau terpengaruh oleh propaganda ISIS di media sosial.

    "Dan kalau sekali satu orang tertarik, sering terjadi bahwa temannya atau kakak, adik, menyusul," kata Sidney.

    Sementara, pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan masuknya anak muda ke kelompok teroris khususnya Jamaah Ansharut Daulah (JAD) karena jaringan tersebut menawarkan pengampunan dan pintu surga.

    Di mana, terkadang kaum muda kurang memiliki pengetahuan agama dan mengalami kekeringan di sisi spiritual. "Selain itu, ISIS, melalui JAD, menawarkan rencana politik kekuasaan untuk dilebur kembali di masa depan agar menjadikan kaum muda sebagai pahlawan. Heroisme inilah yang ditawarkan," kata Al Chaidar saat dihubungi di hari yang sama.

    Apalagi, kata Chaidar, generasi muda masih memiliki energi berlebih untuk mengubah situasi. Namun, hal itu dimanfaatkan oleh kelompok teroris.

    Sejumlah anak muda di bawah usia 30 tahun menjadi pelaku aksi terorisme dalam 12 tahun terakhir. Baru-baru ini, pasangan suami istri L dan YSF alias D melakukan aksi bom bunuh di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.

    L diketahui berumur 26 tahun, sedangkan sang istri masih berusia 21 tahun. Selang tiga hari, ZA, 26 tahun, menyerang Mabes Polri dengan senjata airgun berkaliber 4,5 milimeter.

    Pada 2017, data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan pelaku terorisme mayoritas berasal dari kelompok anak muda. Data tersebut menyebutkan 11,8 persen pelaku terorisme berusia di bawah 21 tahun dan 47,3 persen berada di rentang 21-30 tahun.

    Baca juga: Deretan Anak Muda di Bawah Usia 30 Tahun yang Menjadi Pelaku Terorisme

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.