Kasus Bansos Covid-19, KPK Periksa Ketua Komisi Sosial DPR Sebagai Saksi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu adegan saat anggota DPR Ichsan Yunus (diperankan peran pengganti) bertemu tersangka pejabat pembuat komitmen di Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso dalam rekonstrusi kasus korupsi bantuan sosial, di gedung ACLC KPK, Jakarta, Senin, 1 Februari 2021. KPK menggelar rekonstruksi perkara dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial untuk penanganan Covid-19. TEMPO/Imam Sukamto

    Salah satu adegan saat anggota DPR Ichsan Yunus (diperankan peran pengganti) bertemu tersangka pejabat pembuat komitmen di Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso dalam rekonstrusi kasus korupsi bantuan sosial, di gedung ACLC KPK, Jakarta, Senin, 1 Februari 2021. KPK menggelar rekonstruksi perkara dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial untuk penanganan Covid-19. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap Ketua Komisi Agama dan Sosial Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Yandri Susanto pada hari ini, Selasa, 30 Maret 2021. Ia bakal diperiksa sebagai saksi dalam kasus pengadaan bantuan sosial atau bansos Covid-19.

    "Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MJS (Matheus Joko Santoso, Pejabat Pembuat Komitmen Kementerian Sosial)," ujar Pelaksana tugas juru bicara KPK, Ali Fikri, melalui keterangan tertulis pada Selasa, 30 Maret 2021.

    Selain Yandri, KPK juga memeriksa dua orang saksi lainnya yakni Sahat Simanungkalit selaku notaris dan Prospelany selaku pihak swasta.

    Dalam perkara ini, KPK menetapkan eks Mensos Juliari Peter Batubara dan dua PPK, Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono menjadi tersangka. KPK menduga melalui bawahannya itu, Juliari mengambli fee Rp 10 ribu dari tiap paket bansos yang disalurkan ke wilayah Jabodetabek. Uang berasal dari para vendor yang mendapatkan proyek pengadaan bansos.

    Dua pengusaha telah menjadi terdakwa pemberi suap yaitu Harry dan Ardian Iskandar Maddanatja. Mereka didakwa menyuap Juliari Batubara supaya dipilih menjadi penyedia paket bansos Covid-19. Harry didakwa menyuap sebanyak Rp 1,28 miliar dan mendapatkan jatah 1,5 juta paket bansos. Sementara Ardian didakwa mendapatkan Rp 115 ribu paket bansos.

    Baca juga: Effendi Gazali Bantah Terima Aliran Dana Bansos Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.