Jalan Panjang HMI Sejak 1947 Hingga Kongres Ricuh HMI di Surabaya

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logi HMI. Facebook

    Logi HMI. Facebook

    TEMPO.CO, Jakarta - Kericuhan terjadi di Kongres XXXI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang diadakan di Gedung Islamic Center Surabaya, pada 24 Maret  2021 lalu. Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mengatakan kericuhan disebabkan adanya miskomunikasi antar anggota Kongres HMI.

    HMI ini merupakan salah satu organisasi massa yang turut memberikan sumbangsih besar pada perkembangan negara Indonesia. Awal kehadiran HMI, diprakarsai Lafran Pane, pria kelahiran Sipirok Sumatera Utara yang saat itu masih berstatus Mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) atau sekarang Universitas Islam Indonesia (UII).

    Saat itu Lafran Pane melihat mayoritas mahasiswa bergama islam belum memahami dan menjalankan aturan agama. Hal ini disebabkan kondisi pendidikan dan masyarakat yang belum terlalu mendukung pelaksanaan apsek agama dalam kehidupan sehari-hari.

    Berawal dari pengamatan inilah Lafran Pane berpikir perlu adanya organisasi yang membawa mahasiswa islam pada perubahan di berbagai aspek kehidupan dan tetap berlandaskan ajaran agama islam. Ia ingin mahasiswa lebih mengenali dan menjalankan agama islam.

    Pada 5 Februari 1947 Lafran mengadakan pertemuan mendadak di salah satu ruang kelas STI yang waktu itu berlokasi di Jalan Setiodiningratan (Jalan Panembahan Senopati), Kota Yogyakarta yang dihadiri 14 mahasiswa STI lainnya.

    Baca: Kongres HMI Ricuh Polisi Tampung Ratusan Peserta di Pusdik Brimob

    “Hari ini adalah pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan,” ujar Lafran saat memimpin jalannya rapat, dikutip laman web HMI Malang.

    Maka hari itu Lafran Pane (Yogyakarta), Karnoto Zarkasyi (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (istri Dahlan Husein-Palembang), Maisaroh Hilal (Cucu KH.A.Dahlan-Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Ghozali (Juga pendiri PII-Semarang), Mansyur, Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Zulkarnaen (Bengkulu), Tayeb Razak (Jakarta), Toha Mashudi (Malang), Bidron Hadi (Yogyakarta).

    HMI memiliki dua tujuan yang hendak dicapai yakni pertama mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Struktur kepengurusan yang terbentuk saat itu:

    Ketua: Lafran Pane.

    Wakil Ketua: Asmin Nasution.

    Penulis I: Anton Timoer Djailani.

    Penulis II: Kartono Zarkasyi.

    Bendahara I: Dahlan Husein.

    Bendahara II: Maisaroh Hilal, Soewali.

    Anggota: YusdiGozali, Mansyur.

    Seiring perjalanan waktu, HMI mengalami konflik internal pasca Kongres ke-15 di Medan pada 1983. Tiga tahun berselang, pada 1986 terjadi dua perbedaan asas di internal HMI.

    Saat itu HMI yang bersekretariat di Jalan Diponegoro Jakarta memutuskan mengubah asasnya jadi Pancasila dan melepaskan asas Islam, yang kemudian disebut HMI DIPO. Sedang anggota HMI yang tetap mempertahankan asas Islam disebut HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Barulah pada Kongres Jambi 1999, HMI DIPO kembali kepada asas Islam.

    DELFI ANA HARAHAP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto