Singgung Nama Ibas, Max Sopacua Minta KPK Lanjutkan Usut Kasus Hambalang

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Ibas bersama para Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat membacakan ikrar kesetiaan kepada AHY di tangga Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Ibas bersama para Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat membacakan ikrar kesetiaan kepada AHY di tangga Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta-Salah satu pendiri Partai Demokrat, Max Sopacua, menyinggung Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas dalam kasus korupsi proyek Hambalang. Dia awalnya mengatakan ada orang-orang yang belum tersentuh hukum dari perkara korupsi yang menjerat sejumlah politikus Demokrat satu dekade lalu itu.

    Max awalnya enggan menyebutkan yang dia maksud. Namun akhirnya dia mengatakan bahwa nama putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono itu pun pernah disebut oleh para saksi kasus korupsi Hambalang tersebut. "Pak Anas (Urbaningrum) dapat berapa, Ibas dapat berapa dan lain-lain dapat berapa," kata Max dalam konferensi pers di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 25 Maret 2021.

    Max mengatakan sejumlah politikus Demokrat yang terlibat dalam perkara itu telah menjalani proses hukum. Di antaranya Andi Mallarangeng yang waktu itu menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga; Anas Urbaningrum, mantan ketua umum Demokrat; Muhammad Nazaruddin, mantan bendahara umum Demokrat; hingga Angelina Sondakh, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Demokrat.

    Dia mempertanyakan mengapa ada nama-nama yang belum tersentuh hukum. "Mas Ibas sendiri belum, enggak (tersentuh), disebutkan saksinya berapa banyak oleh para saksi, kan belum. Yulianis (mantan anak buah Nazaruddin) menyebutkan juga, yang masuk penjara kan kita tahu siapa-siapa," kata dia.

    Max mengaku tak terima jika ia dan kubu KLB Deli Serdang kini disebut sebagai perusak partai. Menurut dia, justru kasus Hambalanglah yang menjadi awal kejatuhan partai berlambang bintang mercy itu. Max menyinggung turunnya perolehan suara Demokrat setelah beberapa kadernya terseret kasus Hambalang. Dari 20,4 persen pada Pemilu 2004, suara Demokrat terus berkurang hingga tinggal 7 persen.

    "Kenapa dia tidak bilang bahwa Hambalang perusak Demokrat, kenapa tidak bicara bahwa ada orang-orang yang menikmati uang dari Hambalang ini tidak tersentuh hukum dan bernaung di dalam kelompok mereka," ujar Max.

    Max mengatakan tak boleh ada orang yang dibiarkan menderita, sedangkan lainnya berpangku tangan dan bersenang-senang bahkan menjadi raja di Partai Demokrat. Dia pun berharap pengusutan kasus Hambalang itu dilanjutkan. "Dari tempat ini kami serukan kepada lembaga hukum dalam hal ini KPK untuk menindaklanjuti apa yang belum dilanjutkan," kata dia.

    Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan konferensi pers di Hambalang itu bentuk frustasi dan upaya menutupi rasa malu yang dilakukan pihak KLB Deli Serdang. Dia menilai Darmizal cs hendak mengalihkan isu dari rentetan kegagalan mereka untuk mendapatkan pengesahan atas hasil KLB Deli Serdang dan mengambil alih Demokrat.

    "Kami mengajak publik untuk tidak terpengaruh atas upaya pengalihan isu yang dilakukan para pelaku 'begal politik'," kata Herzaky dalam keterangannya, Kamis, 25 Maret 2021.

    Ketika namanya disebut-sebut pada 2013-2014 lalu, Ibas mengatakan informasi keterlibatan dirinya di kasus Hambalang jauh dari kebenaran. Ibas, yang ketika itu menjabat Sekretaris Jenderal Demokrat, juga menyebut informasi tersebut sangat tidak benar. Ibas mengaku tak mengenal nama para saksi yang menyebutkan namanya.

    "Saya sudah sering dituduh. Penuduhnya pun sudah tervonis dan diketahui. Uang Century, Hambalang, atau apa pun itu yang berhubungan dengan kasus yang selama ini beredar, janganlah sampai hal-hal ini terus berulang, apalagi saya tidak menerima apa pun," kata Ibas pada 16 Maret 2013 lalu.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI

    Baca Juga: Ibas Menjawab Tudingan Terima Duit Hambalang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.