KPK Minta Hakim Tolak Permohanan Nurhadi untuk Pindah Rutan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA Nurhadi (kanan) tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin, 8 Februari 2021. Nurhadi diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Ferdy Yuman atas dugaan merintangi penyidikan kasus dugaan suap sebesar Rp46 miliar terhadap dirinya terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung tahun 2011-2016. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa kasus suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA Nurhadi (kanan) tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin, 8 Februari 2021. Nurhadi diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Ferdy Yuman atas dugaan merintangi penyidikan kasus dugaan suap sebesar Rp46 miliar terhadap dirinya terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung tahun 2011-2016. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan terdakwa kasus suap dan gratifikasi di Mahkamah Agung Nurhadi mengajukan permohonan pemindahan rumah tahanan kepada Majelis Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Nurhadi minta dipindah dari Rutan KPK ke Rutan Kepolisian Resor Jakarta Selatan.

    “Berdasarkan informasi yang kami terima terdakwa mengajukan permohonan kepada pengadilan tinggi,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Ahad, 21 Maret 2021.

    Ali mengatakan mantan Sekretaris MA itu beralasan ingin pindah rutan karena kondisi kesehatan dan usianya yang sudah lanjut. Atas permintaan itu, Ali mengatakan, lembaganya berharap Majelis Hakim menolaknya. Dia mengatakan hak-hak seluruh tahanan di Rutan KPK sudah dipenuhi, termasuk soal kesehatan. “Kesehatan tentu menjadi prioritas utama,” kata dia.

    Ali mengatakan Rutan KPK memiliki dokter klinik yang siaga 24 jam. “Alasan terdakwa berlebihan,” ujar dia.

    Selain karena dianggap berlebihan, Ali mengatakan, permohonan itu juga diharapkan ditolak karena Nurhadi selama proses penyidikan, maupun persidangan dianggap tidak kooperatif.

    Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono merupakan terdakwa kasus suap dan gratifikasi senilai puluhan miliar. Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menghukum keduanya 6 tahun penjara karena terbukti menerima suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di pengadilan. Vonis itu jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK, yaitu 12 tahun penjara.

    Sebelum ditangkap KPK, Nurhadi dan menantunya sempat buron selama 4 bulan, hingga akhirnya ditangkap pada awal Juni 2020.

    Baca juga: Kasus Suap Pajak, KPK Geledah Kantor Jhonlin Baratama


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.