Kementan Tegaskan Food Estate untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kementan Tegaskan Food Estate untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional | Foto: dok.Kementan

    Kementan Tegaskan Food Estate untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional | Foto: dok.Kementan

    JAKARTA - Proyek food estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) bakal dikebut. Target pengembangan kawasan food estate di lahan rawa Kalteng seluas 164.598 ha. Pada TA 2021 target kegiatan intensifikasi lahan pada luasan Daerah Irigasi (DI) yang mengalami perbaikan dengan luas wilayah DI seluas 55.456 ha dan ekstensifikasi pada luasan DI yang mengalami peningkatan jaringan irigasi dengan luas wilayah DI seluas 73.500 ha. 

    Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, pada TA 2020 telah dilaksanakan aktivitas budidaya pertanian melalui program intensifikasi lahan pada lahan sawah eksisting seluas 30.000 ha. 

    "Komoditas utama adalah padi, sedangkan komoditas lain seperti hortikultura (sayuran/buah buahan), peternakan (Itik), dan perkebunan adalah sebagai komoditas pendukung," jelas Sarwo Edhy dalam Webinar yang digelar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dengan tema Food Estate Dukung Ketahanan Pangan, Kamis (18/3).

    Sarwo Edhymengungkapkan, saat ini sedang dilakukan verifikasi terhadap CP/CL kegiatan Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan TA 2021 oleh Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau. 

    "Verifikasi ini mengacu pada peta rencana kegiatan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR," ungkap Sarwo Edhy.

    Kementan juga sudah memulai sistem korporasi petani di wilayah food estate. Perubahan mindset dari petani juga menjadi salah satu sasaran dalam program ini bagaimana budaya bertani, budaya usaha/jasa, komunikasi petani serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan pertanian berbasis kawasan ini. 

    "Pengembangan korporasi petani menjadi prioritas agar petani menguasai produksi dan bisnis pertanian dari hulu ke hilir," ujarnya.

    Korporasi petani bukan sekadar bertumpu pada produktivitas dan kualitas produksi pertanian, namun lebih banyak ditentukan kemampuan SDM menjalankan bisnis yang profit oriented. 

    "Petani harus mendapat untung. Petani menjual beras sebagai produk hilir, bukan gabah sebagai produk hulu. Begitu pula produk olahan lainnya dari komoditas pertanian yang ditanam di food estate," papar Sarwo Edhy. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.