Epidemiolog Sangsi Penurunan Kasus Covid-19 karena Vaksinasi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis mengukur tensi darah warga lanjut usia sebelum disuntikan vaksin COVID-19 tahap pertama di Tegal Alur, Jakarta, 16 Maret 2021. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menargetkan pemberian vaksinasi Covid-19 pada sekitar 203.000 lanjut usia atau lansia. TEMPO/Fajar Januarta

    Petugas medis mengukur tensi darah warga lanjut usia sebelum disuntikan vaksin COVID-19 tahap pertama di Tegal Alur, Jakarta, 16 Maret 2021. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menargetkan pemberian vaksinasi Covid-19 pada sekitar 203.000 lanjut usia atau lansia. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menyangsikan vaksinasi telah membuat jumlah pasien Covid-19 menurun. Dia menilai jumlah orang yang telah disuntuk vaksin belum berdampak pada penurunan penularan.

    Vaksinasi kita masih 1 persen sampai 2 persen, jadi belum berdampak signifikan terhadap penurunan kasus positif,” kata dia saat dihubungi, Selasa, 16 Maret 2021.

    Hingga Sabtu, 13 Maret 2021, jumlah orang yang sudah divaksin dosis kedua mencapai 1,4 juta, sementara jumlah orang yang baru mendapat vaksin Covid-19 tahap pertama berjumlah 3,9 juta. Dicky mengatakan persentase orang yang divaksin dibandingkan jumlah populasi Indonesia masih kecil, dibandingkan di Amerika Serikat dan Israel.

    Dicky mengatakan penurunan jumlah pasien positif terjadi karena banyak faktor. Di Indonesia, dia menilai, penurunan itu justru terjadi karena faktor pengetesan dan pelacakan yang belum baik. “Menjadi tanda tanya besar ketika kasus menurun karena aspek tracing yang tidak memadai,” kata dia.

    Dicky mengatakan penurunan jumlah kasus harian perlu direspons secara hati-hati. Dia mengatakan jumlah tes di Indonesia masih tergolong kecil dibanding jumlah populasi. “Kita belum pernah di atas 100 ribu, padahal situasi mengharuskan,” kata dia.

    Selain itu, kata dia, masih ada perbedaan laporan kasus positif dan kematian antara pemerintah pusat dan daerah. Dia turut mencermati kasus kematian di Indonesia yang masih di atas 100 orang perhari sebagai lemahnya deteksi dini terhadap kasus-kasus positif.

    “Saya menjadi tidak terlalu percaya diri, walaupun senang, tapi tidak terlalu percaya diri karena intervensi di aspek yang mendasari ini belum optimal. Jadi penurunan Covid-19 ini mungkin ada banyak faktor yang harus dilihat,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.