Anggota Komisi III DPR Sesalkan Pengurangan Hukuman Terdakwa Jiwasraya

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim, setelah menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis, 17 Desember 2020. Hendrisman Rahim, telah dijatuhi putusan hukuman pidana seumur hidup karena terbukti melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp16,807 triliun diperiksa sebagai saksi dalam pengembangan kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa Sekuritas kepada PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata tahun 2014-2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim, setelah menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis, 17 Desember 2020. Hendrisman Rahim, telah dijatuhi putusan hukuman pidana seumur hidup karena terbukti melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp16,807 triliun diperiksa sebagai saksi dalam pengembangan kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa Sekuritas kepada PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata tahun 2014-2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, JakartaAnggota Komisi III DPR RI Benny K Harman menyesalkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta yang mengurangi hukuman terdakwa korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

    "Vonis tersebut mencerminkan adanya kesenjangan rasa keadilan antara hakim yang memutus perkara tersebut dengan rasa keadilan hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat," ucap Benny melalui keterangannya di Jakarta, Sabtu, 13 Maret 2021.

    Dia mengatakan agar tidak terjadi kesenjangan rasa keadilan hendaknya hakim di pengadilan benar-benar menggali dan menyelam rasa keadilan hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

    Pengurangan hukuman tersebut, ujar Benny, menunjukkan rendahnya kepedulian para hakim di pengadilan terhadap visi dan misi pemerintah dalam memberantas korupsi.

    "Hakim seolah berdiri di menara gading dan asyik dengan dirinya sendiri, padahal hakim tidak boleh esoterik dari rasa keadilan yang mengusik masyarakat," ujar Benny.

    Dia pun meminta hakim di pengadilan tidak menjadi corong undang-undang dalam mengadili perkara korupsi, namun harus menjawab kebutuhan masyarakat akan keadilan yang substantif.

    PT DKI Jakarta memangkas vonis Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo dari tadinya penjara seumur hidup menjadi 20 tahun.

    PT DKI Jakarta juga mengurangi hukuman Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) 2008-2018 Hendrisman Rahim dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun.

    Kemudian, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto juga dikurangi hukumannya menjadi 18 tahun penjara dari sebelumnya penjara seumur hidup.

    Atas pengurangan hukuman tersebut, Benny pun meminta Kejaksaan Agung melakukan upaya hukum kasasi.

    Sebelumnya, para terdakwa tersebut dinyatakan bersalah karena mengakibatkan kerugian negara hingga Rp16,807 triliun terkait pengelolaan dana PT Asuransi Jiwasyara.


     

     

    Lihat Juga