Alumni Ragukan Sistem i-Voting dalam Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Yayasan Warna Warni Krisnina Maharani melihat buku berjudul 'Jejak Sejarah Indonesia' di Rumah Budaya Kratonan Solo. Buku yang disusun alumni ITB itu memiliki panjang hingga 11,7 meter. (TEMPO/AHMAD RAFIQ)

    Ketua Yayasan Warna Warni Krisnina Maharani melihat buku berjudul 'Jejak Sejarah Indonesia' di Rumah Budaya Kratonan Solo. Buku yang disusun alumni ITB itu memiliki panjang hingga 11,7 meter. (TEMPO/AHMAD RAFIQ)

    Jakarta - Alumni ITB yang tergabung ke dalam forum Spirit Indonesia meragukan sistem i-voting yang akan digunakan untuk memilih ketua umum Ikatan Alumni ITB pada kongres IA ITB, 26-27 Maret mendatang.

    Para alumni meragukan pemilihan sistem i-voting yang dikembangkan sendiri, bukan dengan sistem terbuka (open source). ). “Masih sangat belum jelas, bagaimana i-voting versi self develop ini dikembangkan. Terkesan masih coba-coba. Tentu saja ini berbahaya. Kalau terjadi hal buruk dalam pemilu IA ITB, yang malu kan ITB juga,” kata anggota Spirit Indonesia, Sutan Lubis, dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Maret 2021.

    Anggota Spirit Indonesia lain, Noor Cholis, juga menyoroti sistem i-voting sebagai satu-satunya kanal yang diberikan kepada alumni ITB untuk memilih ketua umum. Ia menilai hal tersebut berisiko dan tidak lazim. Padahal, kata dia, seharusnya juga ada opsi memilih langsung di TPS, pemilihan melalui surat fisik, dan surat elektronik alias e-mail.

    Selain terkesan belum siap, ternyata pengembang sistem pemilu i-voting Ikatan Alumni ITB belum diketahui rekam jejaknya. Budi Raharjo, auditor IT yang bertugas mengawal sistem keamanan i-voting pemilu IA ITB, mengatakan sistem i-voting pemilu IA ITB memang belum sepenuhnya aman.

    “Kalau diminta menilai skor dari 1 sampai 10, saya kasih skor 7. Ini setara dengan nilai C,” ujar Budi.

    Meski memberikan skor 7, Budi mengatakan bahwa sampai Senin malam, status sistem i-voting masih belum selesai. Sistem tersebut juga belum mendapatkan uji sahih dari para pihak berkepentingan, terutama dari timses kedelapan kandidat ketua umum IA ITB.

    Tak hanya sistem i-voting, para alumni juga memprotes proses pendaftaran alumni ITB untuk menjadi daftar pemilih tetap (DPT). Proses ini mendapatkan banyak komplain karena ada sejumlah langkah tidak wajar yang harus dilalui calon pemilih, antara lain kewajiban memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan swafoto calon pemilih.

    Sampai Senin malam kemarin, alumni ITB yang sudah berhasil mendaftarkan diri sebagai pemilih baru mencapai 4.600 orang. Padahal, jumlah alumni ITB lebih dari 120 ribu orang.

    Hal inilah yang mendorong tim sukses kedelapan kandidat ketua umum IA ITB meminta panitia kongres melaksanakan rentang waktu pendaftaran yang cukup, yakni selama 30 hari.

    Baca juga : Peneliti ITB Bikin Alat Detektor Tsunami via Kabel Bawah Laut

    Menanggapi hal ini, Ketua Panitia Kongres IA ITB Agustin Perangin-angin mengatakan akan memperhatikan permintaan tersebut.

    “Kami tentu akan mendengarkan aspirasi dari Ikatan Alumni ITB, termasuk dari kedelapan timses. Dalam waktu dekat, akan ada keputusan mengenai hal ini,” kata Agustin.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga