6 Pembelaan Dokter Tirta Soal Kerumunan Saat Jokowi Berkunjung ke Maumere

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr. Tirta, influencer, dokter, dan pengusaha sepatu lokal memberi keterangan soal undangan BNPB. Instagram.com

    Dr. Tirta, influencer, dokter, dan pengusaha sepatu lokal memberi keterangan soal undangan BNPB. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendapat dokter Tirta yang membela Presiden Jokowi dalam kasus kerumunan saat Jokowi berkunjung ke Maumere Sikka NTT menunai pergunjingan di kalangan netizen.

    Dalam video yang beredar luas di berbagai kanal media sosial itu, dokter Tirta mengatakan dirinya ditanya soal komentar terhadap kerumunan saat Jokowi tiba di Maumere tersebut

    "Jadi gini, Pak Presiden Joko Widodo itu sejatinya simbol negara yang kemanapun beliau pergi akan selalu menarik massa," katanya.

    Dokter Tirta yang punya nama lengkap Tirta Mandira Hudhi itu dinilai berat sebelah oleh sebagian netizen yang mencoba membandingkan kasus kerumunan di Maumere dengan kerumunan yang menjerat Rizieq Shihab beberapa waktu lalu

    ADVERTISEMENT

    Dokter Tirta lantas membagikan statement, yang sebelumnya telah ia tulis dalam kutipan video yang sama di Instagram @dr.tirta, kemudian tangkapan layarnya ia bagikan ke pengikutnya di Twitter.

    Berikut 6 pernyataan dokter Tirta tentang kerumunan warga saat menyambut Presiden Jokowi di Maumere NTT.

    1. Presiden Jokowi sama sekali tidak mengundang masyarakat untuk berkumpul, semua murni dari antusias masyarakat yang ramai datang untuk menyambut presiden. Menurut dokter Tirta, Tugas protokolerlah yang mengatur keramaian, namun mereka kalah jumlah.

    2. Pada salah satu video, sedan Presiden Jokowi sempat dikejar warga yang ingin menyapa, tampak protokoler sampai kewalahan mengatasi kerumunan.

    3. Presiden Jokowi tampak di video, sudah berusaha menenangkan dan mengingatkan tentang protokol kesehatan, tapi warga tetap mengerubungi mobil Presiden Jokowi. Hal tersebut membuat mobil tidak dapat terus melaju.

    Menurut dokter Tirta satu-satunya cara agar kerumunan bubar, mau tidak mau Presiden Jokowi harus menyapa warga dari atap, dan meminta warga kembali ke rumah masing-masing.

    4. Ini menjadi refleksi agar tim protokoler lebih berhati-hati mengatur agenda dan alur massa ketika kegiatan Presiden Jokowi di lapangan.

    5. Atas kejadian ini, pihak biro pers istana juga sudah mengklarifikasi, dan bagi dokter Tirta sudah jelas.

    6. Dokter Tirta berharap, semoga ke depannya istana lebih selektif dan protektif jika agenda Presiden Jokowi di lapangan, karena antusiasme warga yang sangat besar.

    “Sekian pendapat saya, semoga tetap sehat dan tetap semangat,” tulis dokter Tirta menutup statementnya.

    Namun rupanya pro dan kontra tidak usai di sana, bahkan salah satu pengguna Twitter membalas cuitan dokter Tirta itu dengan mempertanyakan tindakan Presiden Jokowi yang membagikan buah tangan untuk masyarakat.

    “Dokter Tirta, Apakah pembagian suvenir yang dilakukan oleh bapak presiden Jokowi di tengah kerumunan tersebut dari mobil adalah juga bukan bagian dari sebuah rencana Pak. Kalau tidak direncanakan bagaimana mungkin ada souvenir di dalam mobil? Apakah itu juga spontanitas?” respons @propertynakmuda.

    “Ingat poin 3, keluar dari atap mobil, terus lemparin souvenir bukan petasan, ya pastinya orang tambah berkerumun kan dok atau sebaliknya?” tulis @sea_vessel.

    “Ini kontradiktif buka sunroof mau bubarin tapi bagi-bagi souvenir, ya tambah ngumpul lah tu orang, biasanya dokter logika oke, tapi ini koq ? hadeeeh,” tulis @Rizza91095907.

    Namun di antara banyaknya komentar yang kontra, @namasosmed berpendapat bahwa wajar jika warga NTT antusias atas kedatangan Presiden Jokowi, “Karena warga sana jarang kedatangan pemimpin Yo bener, didatangi presiden yo podo antusias lah Sama hal e yang pulang dari arab dulu, itu kan di bandara juga disambut orang yang cinta sama beliau to,” tulisnya.

    Merasa dihujat, Dr. Tirta kemudian kembali membuat cuitan dengan menyinggung keterbukaan opini nrtizen.

    “Katanya terbuka beropini. Begitu saya beropini. Dituduh cebong. Yowis. Selamat makan siang, mari kerja lagi,” tulis dokter Tirta. Menurut dokter Tirta, sejak awal dirinya selalu mengedepankan edukasi soal Covid-19, dari bagaimana menjalankan protokol hingga vaksinasi, bukan sanksi. "Yang jelas saya udah utarakan di berbagai media, bahkan di podcast orang-orang,” ucapnya.

    HENDRIK KHOIRUL MUHID 

    Baca juga: Ini Penjelasan Istana Soal Video Jokowi Berjalan Saat Hujan di NTT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.