Dapat Duit Proyek Bendungan Kuningan, Warga Kawungsari Mendadak Kaya Sekampung

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kusmawan, 51 tahun, warga desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum yang sedang mengendarai mobil barunya dicegat oleh beberapa sales motor. TEMPO/DEFFAN PURNAMA

    Kusmawan, 51 tahun, warga desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum yang sedang mengendarai mobil barunya dicegat oleh beberapa sales motor. TEMPO/DEFFAN PURNAMA

    TEMPO.CO, Kuningan - Sejak awal Februari sampai sekarang, sudah sekitar 300 ratus motor dan belasan mobil dibeli warga Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat setelah mendapat ganti untung proyek Bendungan Kuningan. Uang pergantian tanah dan bangunan dibagi tiga tahap, sudah dua kali dibagikan ke 279 bidang tanah. Sisanya 94 bidang belum dibayarkan.

    Desa Kawungsari merupakan desa yang paling rendah dibanding desa dan kecamatan sekitarnya, sehingga desa subur ini akan dijadikan dasar bendungan Kuningan yang memiliki kapasitas 25.96 meter kubik. Bendungan ini diharapkan akan mengaliri air seluar 3.000 hektar di sekitarnya hingga perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah. Pasokan air baku diperkirakan sebesar 0.30 meterkubik perdetik dan menghasilkan listrik sebesar 0.50 mega watt.

    Ketika Tempo sampai ujung desa pada Selasa 23 Februari 2021, terlihat 1 mobil dari Showroom Yamaha JG Kuningan, membawa 3 unit motor all new N-Max 155 cc seri terbaru. Beberapa warga yang melintas berhenti, meminta brosur dan melihat langsung motornya. Menurut Kepala Cabang Yamaha JG, Kiki Hekawati, dealernya sudah menjual 10 unit N-Max terbaru dengan harga 29.3 juta rupiah untuk non abs dan 33.9 juta abs, semua tunai. Karena tidak mungkin diberi kredit. “Mereka yang beli motor karena sudah dapat uang ganti, data yang kami dapat sudah 300 unit motor berbagau merk terjual disini, kami tadi ke desa itu mendata warga yang akan beli motor lagi,” kata Kiki kepada Tempo, Selasa 23 Februari 2021.

    Lokasi yang akan dijadikan bendungan Kuningan, seluas 221 hektar akan mengaliri sawah seluas 1.000 di kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan 2.000 hektar di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. TEMPO/DEFFAN PURNAMA

    Menelusuri jalan berliku dengan turunan ekstrim, akhirnya sampai ke desa Kawung Sari, di persimpangan jalan, dekat warung kopi, sedikitnya ada 15 orang sales motor dan mobil yang sedang beristirahat setelah keliling kampung membagikan brosur dan menjelaskan spesifikasi kendaraannya. Sales mobil Toyota, Honda dan Daihatsu terlihat dari seragamnya, para sales motor menghitung hasil peminatnya.

    Nopi Supriadi, sales sumber rejeki motor Honda bersyukur, motor PCX yang ditawarkan dibeli oleh beberapa orang, “Alhamdulillah, kemarin sudah laku sekitar 15 unit, tadi saya sudah mendapatkan calon pembeli juga, katanya kalau uangnya cair langsung bayar cash,” ujarnya sumingrah.

    Saat Tempo menelusuri jalan desa itu, sebuah Toyota Avanza Veloz baru melintas, didalamnya seorang bapak berusia sekitar 55 tahun, Kusmawan, seorang pedagang dari RT 06/02, Kampung Wage, Desa Kawung Sari. Dia salah satu warga yang mendapatkan uang sekitar 1 miliar dari pergantian rumah, toko dan tanahnya.

    Pada 5 ferbruari lalu, dia sudah mendapatkan uang tersebut, lalu dibelikan mobil baru harganya sekitar 200 jutaan, sebagian beli tanah untuk membangun ruko untuk usahanya. “Sisanya buat modal usaha dan tabungan sekolah anak saya. Hampir semua warga mendapatkan uang pergantian yang fantastis itu sukanya, dukanya belum tahu kedepannya seperti apa,” katanya. Berbeda dengan tetangganya, Kusmawan tidak membeli motor karena sudah memiliki 3 buah.

    Menelusuri perkampung melintasi jalan bersemen, suasana asri desa ini begitu sejuk. Warga masih melakukan aktifitasnya seperti biasa, seolah memuaskan diri sebelum tanah kelahiran mereka ditenggelamkan. Beberapa rumah yang dilintasi tampak motor baru berbagai merk yang belum memiliki plat nomor. Anak-anak perkampungan itu masih bermain seperti biasa, pedagang es krim dan mainan menunggu di dekat mereka.

    “Neng namanya siapa, sekolah dimana,” tanya saya kepada bocah yang sedang mengasuh adiknya yang berusia sekitar satu tahun. “Silvi, kelas VI SD 4 kawungsari,” jawabnya. Ternyata dia sudah diberitahu orang tuanya bahwa mereka harus pindah sebelum bulan Juli. Terlihat ponsel milikinya baru, kereta bayipun sebagian masih terbungkus plastik.

    Saat memotret suasana kampung tidak terasa, ada sekitar 10 ibu-ibu sedang memasak, ternyata itu rumah Kepala Desa Kawungsari, Kusto. Saat diwawancara di rumahnya Kusto yang juga kepala Sekolah Dasar di desanya sedang didatangi beberapa warga, sales motor dan karyawan Bank.

    Selanjutnya: Warga bedol desa akan mendapat rumah tipe 28..


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.