Beri Wejangan ke Kader Demokrat, SBY Singgung Falsafah Cakra Manggilingan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan wejangan kepada jajaran kadernya terkait posisi partai di luar koalisi pemerintahan. Ia menyinggung falsafah Cakra Manggilingan dan sejarah tentang pergantian partai politik yang berkuasa (the ruling party) di Tanah Air.

    "Tahun ini adalah tahun ketujuh Partai Demokrat berada di luar pemerintahan," kata Yudhoyono lewat rekaman video, Rabu, 24 Februari 2021.

    Yudhoyono mengatakan tujuh tahun ini telah memberi pelajaran berharga, sekaligus menguji dan menempa kesabaran, ketegaran, dan keteguhan Partai Demokrat. Dia pun berharap tak ada kader yang merasa berkecil hati kendati kadang Demokrat seolah sendiri.

    "Sejarah dan pengalaman dalam dunia politik di mana pun menunjukkan, termasuk di negara kita, bahwa tidak ada partai politik yang selalu menjadi the ruling party, dan tidak ada pula yang selamanya berada di luar pemerintahan," kata Yudhoyono.

    ADVERTISEMENT

    SBY mengajak para kader Demokrat untuk percaya bahwa mereka tak akan selalu di bawah dan seolah selalu tersisih. Ia mengibaratkan dengan putaran roda pedati dan falsafah Cakra Manggilingan (kehidupan ibarat roda yang berputar).

    "Kehidupan itu akan menjalani hukum dan kodratnya, hukum perubahan dan pergantian di sepanjang garis waktu. Ada siang, ada malam. Ada masanya di bawah, ada masanya di atas," ujarnya.

    Yudhoyono mengaku bersyukur dan bangga. Sebab setelah Pemilu 2019 dan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) partai berlambang mercy ini makin tegas dan berani tampil. Meskipun, kata dia, Demokrat mendapatkan serangan keras, masif, dan sistematis setiap kali tampil menyampaikan sikap yang berbeda dengan pemerintah dan koalisi pemerintah.

    "Kita segera mendapatkan serangan yang keras, masif, dan sistematis dari mereka-mereka yang tidak jelas jati dirinya," kata mantan Presiden keenam ini.

    Yudhoyono berkesimpulan, sebagai orang yang memahami realitas, dinamika, dan pasang surut kehidupan politik sejak era Presiden Soekarno, Soeharto, hingga kini, jalan yang ditempuh Demokrat tak selalu mudah. Ia mengakui, Demokrat tak mungkin bisa mengimbangi partai koalisi pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang sangat kuat. Demokrat, misalnya, kalah dalam perjuangan di parlemen.

    Meski begitu, Yudhoyono mengaku tetap bangga karena kader Demokrat tak menyerah atau patah semangat menghadapi beratnya perjuangan itu. Ia juga bangga kader Demokrat memperjuangkan aspirasi kelompok masyarakat sipil dan organisasi profesi.

    "Insya Allah, kesabaran, ketegaran, dan semangat pantang menyerah yang kita miliki akan berbuah manis di kemudian hari. Bisa saja gagal di hari ini, tapi sukses di hari esok," ujar SBY.

    Baca juga: SBY Sepakat Rencana Kudeta Demokrat Bukan Lagi Urusan Internal Partai


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.