Mensos: Korban Narkoba Bisa Hidup Normal Lagi

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Tri Rismaharini didampingi Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat pada acara Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Cawang Jakarta, Rabu (24/2/2021).

    Menteri Sosial Tri Rismaharini didampingi Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat pada acara Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Cawang Jakarta, Rabu (24/2/2021).

    JAKARTA - Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan upaya penanggulangan bahaya Napza, salah satunya melalui rehabilitasi sosial. Program ini dilakukan melalui Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) serta ditujukan bagi para korban penyalahgunaan Napza.  

    "Saat ini, populasi korban penyalahgunaan Napza di Indonesia sebanyak 3,6 juta orang," ujar Menteri Sosial Tri Rismaharini didampingi Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat pada acara Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Cawang Jakarta, Rabu 24 Februari 2021.

    Hadir dalam acara tersebut, Kepala BNN Petrus Reinhard Golose didampingi Deputi Bidang Pemberantasan Arman Depari dan Deputi Bidang Hukum dan Kerjasama Puji Sarwono. Kepala BNN menyerahkan secara simbolis baju War Against Drug kepada Menteri Sosial. 

    Mensos mengajak semua pihak terkait untuk berkolaborasi dalam upaya menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya Napza. Sebab, penanggulangan obat-obatan terlarang bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan segenap elemen bangsa. 

    "Tugas menyelamatkan bangsa tidak hanya tugas Pemerintah melainkan tugas kita bersama. Ayo kita bergandengan tangan untuk menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba," ujanya.

    Selain itu, Mensos mengapresiasi langkah yang telah dilakukan BNN dalam penindakan terhadap pelaku, sehingga perlu meningkatkan kerjasama antar lembaga/kementerian dalam penanggulangan bahaya Napza tersebut.  

    "Terima kasih kasih kepada seluruh pimpinan dan jajaran BNN yang telah berupaya menyelamatkan bangsa dari bahaya Napza yang dilakukan oleh pihak-pihak dari luar yang ingin melihat Indonesia hancur," katanya. 

    Kemensos melakukan rehabilitasi sosial di Balai Napza “Bambu Apus” Jakarta dengan daya tampung 4.100 orang, Balai Napza “Galih Pakuan” Bogor berkapasitas 4.700 orang, Balai Napza “Satria” Baturaden Banyumas untuk 4.100 orang, Balai Napza “Insyaf ” Medan berkapasitas 440 orang dan Loka Napza “Pangurangi” Takalar dengan daya tampung 2.660 orang.

    “Saya percaya korban Napza bisa hidup normal kembali. Setiap orang bisa jadi korban narkoba sehingga penanganan korban penyalahgunaan narkoba perlu pendekatan, tidak memusuhi merangkul serta mengajak komunikasi apa yang dibutuhkan mereka," kata Mensos. 

    Sebelumnya, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kemensos mendapatkan lima korban penyalahgunaan Napza dari komunitas yang pedulin terhadap korban Napza, lalu direhabilitasi dan diajak komunikasi.

    "Dari lima anak tersebut, ada yang berminat membuat kafe dan membuat sepatu lalu dalam beberapa waktu sudah ada kabar kafenya ramai dan usaha sepatu pun lancar hingga mempunyai tiga pegawai," ujar Mensos.

    Sebelum menutup arahannya, Mensos menguatkan ajakan kepada semua pihak terkait untuk memerangi narkoba dan selalu mengampanyekan sehingga generasi bangsa bisa selamat dan tidak hancur. 

    "Kita bisa asal bersama-sama, mari stop narkoba agar kita bisa hidup lebih baik. Teruskan kampanye ini karena Tuhan tidak mungkin kasih cobaan di luar kemampuan kita.  Kampanye ini harus digemborkan ini terutama pada remaja agar Indonesia tidak hancur," kata Mensos.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.