Sidang Kasus Suap: Edhy Prabowo Disebut Perintahkan Beli 8 Sepeda

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Edhy Prabowo usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin, 22 Februari 2021. Dalam pemeriksaan ini penyidik melakukan perpanjangan penahanan tahap tiga selama 30 hari terhadap Edhy Prabowo terkait kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster. TEMPO/Imam Sukamto

    Ekspresi Edhy Prabowo usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin, 22 Februari 2021. Dalam pemeriksaan ini penyidik melakukan perpanjangan penahanan tahap tiga selama 30 hari terhadap Edhy Prabowo terkait kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo disebut memerintahkan bawahannya untuk membeli 8 sepeda dengan total harga Rp 168 juta. Hal itu disampaikan staf khususnya, Safri, saat bersaksi dalam sidang kasus suap ekspor benur dengan terdakwa Suharjito.

    "Untuk keperluan Pak Menteri," kata Safri di sidang kasus suap ekspor benih lobster di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 24 Februari 2021.

    Safri mengatakan perintah Edhy Prabowo itu disampaikan melalui Amiril Mukminin. Amiril merupakan sekretaris pribadi Edhy. Safri dan Amiril sama-sama menyandang status tersangka dalam perkara ini.

    Menurut Safri, Amiril menyampaikan bahwa ada perintah untuk membeli 8 sepeda. Sepeda itu nantinya akan ditaruh di rumah dinas menteri. Safri mengatakan bahwa ada temannya yang bisa membantu mencarikan sepeda itu.

    "Temannya Pak Menteri juga. Jadi dia yang bisa mengusahakan untuk membelikan sepeda," kata Safri.

    Jaksa KPK kemudian membacakan Berita Acara Pemeriksaan yang berisi bahwa setelah itu Safri menerima uang sebanyak Rp 168 juta. Uang dikirim dengan transfer dari sekretaris istri Edhy Prabowo, Ainul Faqih.

    Selanjutnya uang itu dibelikan 8 unit sepeda dengan harga Rp 14 juta per unit. Sisa uang dari sekretaris istri Edhy Prabowo ini kemudian dibelikan ponsel. "Seingat saya seperti itu," kata Safri mengkonfirmasi isi BAP.

    Baca juga: Diduga Disalahgunakan, KPK Perketat Kunjungan Online untuk Edhy Prabowo


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.