Gen Z hingga Etnik Non-Jawa yang Mau Divaksin Rendah, Ini Strategi Ridwan Kamil

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat melakukan serah terima kunci rumah program Bataru (Bakti Padamu Guru) kepada para guru di Perumahan Benteng Mas Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Kamis (17/2/2021). (Foto: Pipin/Humas Jabar)

    Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat melakukan serah terima kunci rumah program Bataru (Bakti Padamu Guru) kepada para guru di Perumahan Benteng Mas Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Kamis (17/2/2021). (Foto: Pipin/Humas Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan melakukan komunikasi publik secara spesifik, terutama menyasar pada generasi Z agar mereka bersedia divaksinasi.

    "Mungkin Jawa Barat akan melakukan komunikasi publik secara khusus," kata Ridwal Kamil dalam rilis survei Indikator, Ahad, 21 Februari 2021.

    Berdasarkan rilis survei Indikator hari ini, sebanyak 43,9 persen kelompok usia 22-25 tahun tidak bersedia divaksin. Sedangkan 45,1 persen bersedia. Kelompok usia yang paling banyak bersedia divaksin adalah lanjut usia atau di atas 55 tahun, dengan 61 persen.

    Menurut Ridwan Kamil, perlu ada sebuah metode untuk mengkomunikasikan kepada generasi Z. "Jadi materi tentang vaksin ke anak muda beda dengan yang tua," katanya.

    ADVERTISEMENT

    Selain kelompok usia, komunikasi publik secara spesifik juga akan ditujukan kepada kelompok etnis tertentu. Dari hasil survei Indikator, etnis Jawa mayoritas bersedia menerima vaksin ketimbang etnis lainnya. Karena itu, Ridwan Kamil berencana membuat video testimoni terkait vaksinasi dengan bahasa lokal.

    Masih dari survei Indikator, nonmuslim lebih bersedia divaksin ketimbang muslim. Survei menunjukkan, 52,6 persen muslim bersedia divaksin, sedangkan 71,6 persen nonmuslim bersedia divaksin.

    Melihat data tersebut, Ridwan Kamil mengatakan akan meningkatkan peran ulama dalam memberikan fatwa penguatan terhadap vaksin.

    Survei Indikator tentang Tantangan dan Problem Vaksinasi Covid-19 dilakukan pada 1-3 Februari 2021. Survei dilakukan dengan menelepon 1.200 responden, yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung dalam rentang 2 Maret 2018-Maret 2020.

    Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

    Baca: Ridwan Kamil Ajukan 3 Usulan Memaksimalkan Program Vaksinasi Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.