SBY Sebut Kritik Laksana Obat dan Pujian Ibarat Gula

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mengibaratkan kritik seperti obat yang terasa pahit dan pujian bak gula yang rasanya manis. Pengibaratan ini disampaikan SBY dua cuitan di akun Twitternya pada Sabtu, 13 Februari 2020.

    SBY mengatakan obat terasa pahit, tetapi bisa mencegah atau menyembuhkan penyakit. Jika obat dan dosisnya tepat, kata SBY, maka seseorang yang mengonsumsinya akan menjadi sehat.

    "Obat itu rasanya "pahit". Namun bisa mencegah atau menyembuhkan penyakit. Jika obatnya tepat dan dosisnya juga tepat, akan membuat seseorang jadi sehat," cuit SBY.

    SBY mengatakan kritik seperti obat yang terasa pahit. Menurut dia, seseorang yang dikritik pun bisa merasa sakit. Namun di sisi lain, SBY menilai kritik dapat mencegah terjadinya kesalahan.

    ADVERTISEMENT

    "Kritik itu laksana obat dan yang dikritik bisa "sakit". Namun kalau kritiknya benar dan bahasanya tidak kasar, bisa mencegah kesalahan," kata SBY.

    Kebalikan dari obat yang pahit, SBY menyinggung gula yang rasanya manis. Meski manis, kata SBY, gula yang dikonsumsi berlebihan dapat mendatangkan penyakit.

    "Sementara, pujian dan sanjungan itu laksana gula. Jika berlebihan dan hanya untuk menyenangkan, justru bisa menyebabkan kegagalan," tulis SBY dalam cuitan keduanya. Di akhir setiap cuitan, tertera *SBY* yang berarti cuitan itu berasal dari dirinya langsung.

    SBY tak menjelaskan lebih lanjut konteks dari cuitannya ini. Namun belakangan ini, masalah kritik-mengkritik ramai dibicarakan setelah pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam acara Peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI Tahun 2020 pada Senin lalu, 8 Februari 2021.

    Dalam pidatonya, Presiden Jokowi meminta agar masyarakat lebih aktif menyampaikan masukan dan kritik kepada pemerintah. Kritik, kata Jokowi, salah satunya dapat disampaikan melalui Ombudsman RI.

    "Masyarakat harus lebih aktif menyampaikan kritik masukan ataupun potensi maladministrasi dan para penyelenggara pelayanan publik juga harus terus meningkatkan upaya-upaya perbaikan perbaikan," kata Jokowi.

    Pernyataan Presiden Jokowi ini menuai pelbagai respons dari banyak pihak. Mantan dosen filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menilai ucapan Jokowi paradoks dengan kenyataan yang terjadi.

    Menurut Rocky, Jokowi seolah menutup mata akan berbagai kasus pembungkaman kebebasan berpendapat yang selama ini terjadi. Ia menyinggung adanya serangan pendengung atau buzzer pro-kekuasaan dan ancaman UU ITE yang membayangi para pengkritik kebijakan pemerintah.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | EGI ADYATAMA | DEWI NURITA

    Baca juga: Jokowi Minta Dikritik, Rocky Gerung: Paradoks, Permainan Dua Muka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.