Ketum Nahdlatul Ulama: Nasionalisme Religius Jangkar Atasi Masalah Perpecahan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ditemui wartawan saat melepas jenazah almarhum adik bungsu Gus Dur, KH Hasyim Wahid (Gus Im) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu 1 Agustus 2020. ANTARA/ Abdu Faisal

    Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ditemui wartawan saat melepas jenazah almarhum adik bungsu Gus Dur, KH Hasyim Wahid (Gus Im) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu 1 Agustus 2020. ANTARA/ Abdu Faisal

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menyebut nasionalisme religius adalah jangkar untuk mengatasi berbagai potensi disintegrasi akibat SARA dan kesenjangan ekonomi ini. 

    "Seluruh komponen bangsa diharapkan gotong-royong mengatasi pandemi, bahu-membahu menyokong kaum miskin dan papa yang paling terdampak secara ekonomi, dan berhenti mengoyak persatuan dengan narasi kebencian, hoaks, fitnah, dan insinuasi," ujar Aqil dalam pidatonya saat peringatan hari lahir (Harlah) ke-95 NU, Ahad, 31 Januari 2021.

    Dalam kondisi serba krisis seperti ini, Aqil berharap masyarakat bijak menggunakan media sosial sebagai instrumen merajut silaturahmi, menganyam persatuan, dan alat menyebarkan kebaikan dengan ilmu dan informasi yang bermanfaat.

    Baca juga: Megawati: NU dan PDIP Selalu Dekat dan Beriringan

    "Saring sebelum sharing, posting yang penting jangan yang penting posting. Ranah digital harus menjadi panggung dakwah bil hikmah wal mauidhatil hasanah. Tidak ada artinya konten-konten digital yang diproduksi kecuali dalam rangka mengajak kebaikan dan rekonsiliasi," ujarnya.

    NU, kata Aqil, juga mengajak seluruh komponen bangsa mendukung langkah-langkah pemerintah mengatasi pandemi Covid-19, termasuk dengan menggalakkan vaksinasi untuk mewujudkan kemaslahatan umum.

    Harlah NU ke-95 yang bertepatan dengan kondisi pandemi Covid-19, ditambah lagi dengan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, kata Aqil, semestinya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Disamping itu, kondisi ini diharapkan menjadi titik tolak pemerintah memperbaiki kebijakan publik yang merusak keseimbangan alam.

    "Keseimbangan ekosistem harus dijaga dari sistem yang menghalalkan kerakusan ekonomi. Ekonomi harus dibangun berdasarkan prinsip wasathiyah, di antara orientasi pertumbuhan dan pemerataan, di antara sektor padat modal dan padat karya, di antara eksploitasi sumber daya alam dan ekonomi berbasis pengetahuan," tutur Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...