Kisah Relawan Gempa di Mamuju, Rela Tinggalkan Pekerjaan Demi Kemanusiaan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana dapur umum korban gempa Mamuju. TEMPO/Didit Haryadi

    Suasana dapur umum korban gempa Mamuju. TEMPO/Didit Haryadi

    TEMPO.CO, MamujuGempa besar yang menguncang di Kabupaten Mamuju dan Majene telah meluluh lantahkan bangunan dan ribuan orang menjadi korban. Setelah terjadinya gempa di Mamuju, bantuan masih terbatas. Termasuk relawan yang membantu jumlahnya bisa dihitung, salah satunya juru masak yang hanya 5 orang saja. Padahal mereka menyiapkan makanan buat ratusan korban. Mereka pun harus bekerja sampai larut malam tepatnya pukul 01.00 WITA.

    "Awal-awal sedih hanya lima orang yang masak," kata Siti Maryam, Relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Dapur Umum, Mamuju saat ditemui, Ahad pagi 31 Januri 2021.

    Seiring berjalannya waktu, relawan lain mulai berdatangan untuk membantu termasuk relawan lokal. Dalam sehari, Siti menyebutkan, pihaknya menyiapkan 500 porsi yang dibagikan kepada korban gempa di Mamuju.

    Siti Maryam, Relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Dapur Umum, Mamuju saat ditemui, Ahad pagi 31 Januri 2021. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi menjadi relawan bencana alam. TEMPO/Didit Hariyadi

    ADVERTISEMENT

    Dengan menu berganti-ganti seperti ayam, telur, sayur, perkedel, udang, bakwan, serta buah-buahan. "Sehari 40 liter beras kita masak, kita punya data posko-posko untuk pendistribusian," ucap perempuan asal Sukabumi ini.

    Baca: Korban Gempa Mamuju Sudah Mulai Beraktifitas, Ada yang Masih Trauma

    Delapan tahun menjadi relawan, kata dia, basic-nya adalah bagian penyelamatan, sehingga kadang ia juga membantu mengevakuasi korban. "Kalau rescue packing mayat itu sulit," tutur wanita 36 tahun.

    Akan tetapi, karena kecintaannya menjadi relawan kemanusiaan, sehingga Siti rela meninggalkan kerjanya sebagai sekuriti di Sukabumi tahun 2012. Musababnya ia tidak bisa izin setiap ada bencana melanda Indonesia. "Waktu di Lombok itu rencana dua minggu, tapi ditugaskan menjadi tiga bulan. Jadi, lebaran Idul Adha di sana," ujar Siti. "Di Palu, bahkan saya jadi komandan pasukan."

    Komandan Posko Induk, Sulawesi Barat, Lukman Solehudin mengatakan ada tujuh posko unit di Kabupaten Mamuju dan empat di Majene, dengan total relawan 250 orang. Mereka ini yang menjangkau semua penyintas lantaran episentrum gempa itu ada di Majene, sehingga berdampak juga di Mamuju. "Kita menyiapkan makanan gratis, sediakan bahan pokok sampai melakukan evakuasi," tutur Lukman.

    Didit Hariyadi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...