Reformasi Polri Sampai Korupsi, Ini 7 PR Kapolri Listyo Sigit dari LPSK

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo saat diambil sumpah jabatannya dalam pelantikan dirinya menjadi Kapolri di Istana Negara, 27 Januari 2021. Foto/youtube

    Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo saat diambil sumpah jabatannya dalam pelantikan dirinya menjadi Kapolri di Istana Negara, 27 Januari 2021. Foto/youtube

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Maneger Nasution menyebut ada tujuh pekerjaan rumah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

    Pekerjaan rumah pertama menurut Maneger ialah menuntaskan reformasi di tubuh Kepolisian dengan mengacu pada mandat konstitusional, serta tujuan dan batasan yang diatur undang-undang. Khususnya, Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian.

    Kedua, membangun soliditas Korps Bhayangkara. Maneger mengatakan ini demi memupus potensi resistensi di internal Polri. Dia menyebut Sigit akan dihadapkan dengan resistensi jenderal-jenderal yang lebih senior. Sigit memang melangkahi dua angkatan seniornya di Akademi Kepolisian untuk menjadi Kapolri.

    "Ia harus bisa mengatasi potensi resistensi para senior yang merasa dilompati dan mengakomodasi berbagai kepentingan di internal Polri," kata Manager lewat keterangan tertulis pada Rabu, 27 Januari 2021.

    Pekerjaan rumah ketiga adalah mengatasi surplus perwira tinggi dan komisaris besar di tubuh Polri. Sigit diharapkan mampu menata ulang struktur di internal Kepolisian agar lebih seimbang.

    Baca juga: Ini Pesan Tito Karnavian untuk Listyo Sigit

    Menurut Maneger, Polri tak bisa lagi hanya menebar anggotanya untuk berkarier di luar institusi Polri. "Apalagi di tengah kritik terhadap Polri yang banyak menduduki jabatan publik dan posisi strategis di luar tubuh Polri," ucapnya.

    Keempat, mensterilkan Polri dari tarikan dan kepentingan politik. Maneger berujar, Sigit harus bisa menunjukkan kepada publik bahwa Polri profesional dan independen, meski ia memiliki kedekatan dengan Presiden Jokowi.

    Sigit memang dianggap dekat dengan Jokowi lantaran pernah menjadi ajudan orang nomor satu di Tanah Air itu pada 2014-2016. Ia juga menjadi Kepala Kepolisian Resor Surakarta saat Jokowi menjabat Wali Kota di sana.

    Kelima, Maneger mengatakan Sigit harus memastikan ia mampu mengembalikan Polri kepada khitahnya, yakni mengayomi dan melindungi masyarakat tanpa terkecuali. Keenam, merespons semakin berkembang dan inovatifnya teknologi informasi dan komunikasi. Menurut dia, Kepolisian harus makin siap dengan revolusi 4.0 yang membuat ragam kejahatan lebih modern karena didukung teknologi.

    Adapun pekerjaan rumah terakhir adalah memberikan solusi konkret terhadap permasalahan yang dinilai mendasar di tubuh Polri. Seperti represivitas aparat, penyiksaan, extrajudicial killing, penempatan anggota Polri pada jabatan di luar organisasi Polri, kontrol pertanggungjawaban etik.

    Kemudian korupsi di tubuh Polri, sulitnya bantuan hukum, dan krisis keteladanan dalam pola hidup sederhana di kalangan petinggi Kepolisian.

    "Jika masalah-masalah ini tidak dievaluasi dan dicarikan solusinya maka sulit untuk menghadirkan keyakinan bahwa kita memiliki Kepolisian yang profesional, modern, demokratis, terpercaya, dan dicintai di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit," kata Maneger.


     

     

    Lihat Juga