MAKI Kritik Wali Kota Tanjungpinang Lantik Pejabat Berstatus Tersangka Korupsi

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pegawai negeri sipil (PNS). TEMPO/Subekti

    Ilustrasi pegawai negeri sipil (PNS). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengkritik kebijakan Wali Kota Tanjungpinang Rahma yang melantik tersangka kasus korupsi sebagai pejabat eselon III.

    Mengutip Antara, Koordinator MAKI Boyamin Saiman mengatakan pelantikan pejabat yang telah ditetapkan penyidik Kejari Tanjungpinang sebagai tersangka kasus bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) di Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) wajar berbuntut panjang hingga menimbulkan polemik.

    "Mestinya hal tersebut tidak dilakukan walau berstatus tersangka tidak ada larangan. Namun, kepala daerah harus menjaga kepercayaan publik dengan cara pejabat-pejabatnya adalah orang bersih yang tidak tersangkut perkara hukum," ujar Boyamin, Ahad, 24 Januari 2021.

    Boyamin mengemukakan kepala daerah memiliki otoritas atau wewenang melantik ASN sebagai pejabat. Akan tetapi, lanjut dia, kekuasaan tersebut harus mengedepankan kepentingan pemerintahan dan masyarakat.

    Birokrasi pemerintahan harus berjalan optimal dengan menaati peraturan dan norma-norma lainnya. Pengangkatan ASN bermasalah, terutama yang tersandung kasus korupsi, menurut dia, merupakan kebijakan yang melukai hati masyarakat.

    Ditegaskan pula bahwa kekuasaan yang diberikan kepada kepala daerah semestinya dipergunakan sesuai dengan keinginan negara, keseriusan aparat penegak hukum, dan komitmen kepala negara dalam memberantas korupsi. 

    "Jarang sekali terjadi di negeri ini tersangka korupsi dilantik sebagai pejabat. Ada kesan, seolah-olah dia (Wali Kota Rahma) menganggap berkuasa penuh sehingga merasa tidak ada masalah melantik pejabat dengan status tersangka," ujar Boyamin.

    Boyamin merasa yakin masih banyak ASN lain yang bersih dan layak untuk menduduki suatu jabatan di pemerintahan. ASN yang layak dan bersih itu tentu bukan berstatus sebagai tersangka. "Kok, kayak tidak ada orang lain yang lebih baik dan seakan-akan ASN itu jika tidak dilantik besok akan kiamat," ujarnya.

    Wali Kota Rahma mengatakan bahwa pelantikan terhadap seluruh pejabat ASN, termasuk yang sedang tersandung kasus hukum, sudah sesuai dengan prosedur dan pertimbangan yang matang bersama Baperjakat. "Kami lebih mengedepankan asas praduga tidak bersalah," ujarnya.

    Sebelumnya, Wali Kota Tanjungpinang Rahma melantik sejumlah pejabat ASN. Salah satunya ialah Yudi Ramdani yang berada di urutan 73 dari 272 orang pejabat yang dilantik.

    Yudi ketika menjabat Kepala Bidang Aset pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Tanjungpinang ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus korupsi. Jabatan barunya sejak 9 Januari 2021 adalah Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kota Tanjungpinang.

    Baca juga: KPK Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Pengadaan Citra Satelit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.