Pelaporan Kematian 6 Laskar FPI ke CAT, KontraS: Sulit Ditindaklanjuti

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Situasi rekonstruksi tempat kejadian kasus penembakan enam laskar FPI yang dilakukan Bareskrim di Karawang, Jawa Barat, Senin, 14 Desember 2020. TEMPO/Rosseno Aji

    Situasi rekonstruksi tempat kejadian kasus penembakan enam laskar FPI yang dilakukan Bareskrim di Karawang, Jawa Barat, Senin, 14 Desember 2020. TEMPO/Rosseno Aji

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim advokasi kasus kematian enam anggota Laskar FPI, mengaku telah melaporkan kejadian tersebut pada Komite Anti Penyiksaan (Committee Against Torture) yang bermarkas di Jenewa, Swiss pada 25 Desember 2020 lalu. Meski begitu, CAT diragukan dapat berbuat banyak terhadap kasus ini.

    "CAT memang menerima individual complaints. Tapi, Indonesia belum ratifikasi Operational Protocol CAT dan 2nd Optional Protocol ICCPR," ujar peneliti Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Rivanlee Anandar, saat dihubungi Tempo, Sabtu, 23 Januari 2021.

    KontraS diketahui kerap berhubungan dengan Komite Antipenyiksaan. Namun Rivanlee mengatakan selama ini, status Indonesia yang belum meratifikasi protokol CAT itu kerap jadi kendala bagi organisasi itu untuk menindaklanjuti laporan lewat pemantauan penuh.

    Baca: Ini Penyebab Tim Advokasi Sulit Adukan Kematian Laskar FPI ke ICC

    "Hal itulah yang KontraS suarakan di Universal Periodic Review 2017 agar Negara segera meratifikasi dua instrumen tersebut," kata Rivanlee.

    Karena itu, Rivanlee melihat dalam kasus pelaporan tim advokasi enam anggota Laskar FPI itu dalam kasus penembakan anggota FPI, kemungkinan laporan hanya akan didokumentasikan oleh CAT sebagai sebuah peristiwa.

    "Kalau lapor, lalu diterima, bisa-bisa saja. Tapi follow up-nya sulit," kata Rivanlee.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.