Kemenkes: Okupansi Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Daerah Mengkhawatirkan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempat tidur tambahan untuk pasien COVID-19 berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala), di Rumah Sakit Darurat (RSD) Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 15 Januari 2021. Pemerintah Kota Bekasi menambah dua ruang isolasi dengan 50 tempat tidur untuk mengantisipasi peningkatan kasus COVID-19. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Tempat tidur tambahan untuk pasien COVID-19 berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala), di Rumah Sakit Darurat (RSD) Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 15 Januari 2021. Pemerintah Kota Bekasi menambah dua ruang isolasi dengan 50 tempat tidur untuk mengantisipasi peningkatan kasus COVID-19. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir, mengatakan tingkat keterisian tempat tidur di RS rujukan Covid-19 secara nasional mencapai 64,83 persen.

    Kadir menjelaskan, jumlah RS rujukan Covid-19 di seluruh Indonesia ada 2.979 RS. Sementara tempat tidur yang disiapkan untuk pasien Covid-19 adalah 81.032 unit.

    "Ini kalau kita lakukan perbandingan dengan jumlah pasien yang dirawat di RS, jumlahnya 52 ribu, maka artinya bed occupancy rate (BOR) kita masih berada di posisi 64,83 persen," kata Kadir dalam dialog produktif Kabar Jumat, pada Jumat, 22 Januari 2021.

    Meski angkanya sedikit di atas ambang batas standar WHO sebesar 60 persen, Kadir menyebut tingkat keterisian tempat tidur jika dilihat datanya per daerah sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut, ada beberapa daerah yang bed occupancy rate di posisi 80 hingga 88 persen.

    ADVERTISEMENT

    Baca: 2 Hari Cari Rumah Sakit, Seorang Pasien Covid-19 di Tangerang Selatan Meninggal

    "Jakarta di 82 persen. Artinya ini secara umum sudah mengkhawatirkan karena penambahan pasien begitu banyak tiap hari, maka ada kemungkinan tidak tertampung RS," katanya.

    Menurut Kadir, kondisi ini sebetulnya sudah diprediksi berdasarkan pengalaman 1-2 pekan setelah libur panjang yang selalu mengalami kenaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

    Pada Juni-September tahun lalu, Kadir menyebut lonjakan kasus terkait Covid-19 belum ada masalah karena bed occupancy rate di seluruh rumah sakit Indonesia masih ada di kisaran 35-40 persen. Namun saat ini sudah mengkhawatirkan karena BOR sudah mencapai di atas 80 persen. "Sehingga kita bisa prediksi bila terjadi lonjakan tinggi, ada kemungkinan beberapa masyarakat yang tidak tercover RS, dan akan berdampak pada tingginya angka kematian dan penularan nakes kita," katanya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.