Vaksinasi Covid-19, Mahfud MD: Kami Pakai Dalil Kesehatan Rakyat Hukum Tertinggi

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD dalam Rapat Koordinasi Kesatuan Bangsa 'Penyerahan Hasil Evaluasi dan Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa' di Jakarta, Rabu, 16 Desember 2020.

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD dalam Rapat Koordinasi Kesatuan Bangsa 'Penyerahan Hasil Evaluasi dan Rekomendasi Kebijakan Kementerian/Lembaga di Bidang Kesatuan Bangsa' di Jakarta, Rabu, 16 Desember 2020.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengatakan vaksinasi Covid-19 saat ini menjadi kontroversi. Dia mengatakan sebagian pihak menganggap vaksinasi adalah hak, sementara yang lain menganggap itu kewajiban.

    Menurut Mahfud dalam hal vaksinasi pemerintah menggunakan dalil yaitu Salus Populis Suprema Lex atau keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi.

    ”Pemerintah sendiri sejak awal di dalam rapat kabinet selalu mengatakan menggunakan dalil yang lebih umum, pemerintah harus mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyatnya,” kata dia dalam diskusi daring Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada, Sabtu, 16 Januari 2020.

    Mahfud mengatakan untuk tujuan tersebut pemerintah menggunakan dalil Salus Populis Suprema Lex. “Keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi, nah itu yang dipakai,” kata dia.

    Dia mengatakan pemerintah ingin mengambil kebijakan kesehatan terkati Covid-19 dengan dalil Salus Populis Suprema Lex. Presiden dan pejabat lainnya, kata dia, ingin menyelamatkan rakyat.

    Dalam konteks tersebut, kata dia, ada Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Mahfud mengatakan bila kita merasa kesehatan adalah hak dasar, maka hak asasi itu dibatasi dengan UU. UU itu, kata dia, kemudian diturunkan dengan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk melindungi hak asas orang lain termasuk soal program penyuntikan vaksin Covid-19.

    “Anda boleh merasa tidak mau divaksi, tapi kalau melanggar hak orang lain, membahayakan hak orang lain untuk sehat, maka negara bisa memaksa, tapi tentu tidak selesai sampai di situ perdebatan,” ujar dia.

    Baca juga: Kasus Harian Covid-19 Per 16 Januari 2021 Catat Rekor Baru: Bertambah 14.224


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.