KontraS Nilai Pelibatan Babinsa Sebagai Pelacak Covid-19 Ciptakan Rasa Takut

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fatia Maulidiyanti Koordinator KontraS 2020-2023 yang menjadi Dewan Juri Udin Award. Foto: KontraS.org

    Fatia Maulidiyanti Koordinator KontraS 2020-2023 yang menjadi Dewan Juri Udin Award. Foto: KontraS.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai, rencana Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk memberdayakan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan hayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) sebagai pelacak Covid-19, hanya akan menciptakan rasa takut.

    Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti mengatakan, pelibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam urusan penanganan Covid-19 tidak akan memberikan solusi terhadap bagaimana mengurangi penyebaran Covid-19.

    "Pendekatan keamanan hanya menciptakan rasa takut, yang justru tidak mengurangi penyebaran Covid-19, dan berujung pada merenggut kebebasan sipil," ujar Fatia saat dihubungi pada Jumat, 15 Januari 2021.

    Fatia menilai, sejak awal Covid-19 menyebar di Indonesia, pemerintah selalu menggunakan pendekatan keamanan kepada masyarakat. Bukan pendekatan keilmuan atau membangun kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19.

    "Semestinya yang lebih dikerahkan bagaimana kesadaran masyarakat agar lebih mawas diri, menerapkan 3M, dan sebagainya," kata Fatia.

    Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan strategi pelacakan kontak penyebaran Covid-19 mesti diperbaiki. Ia pun telah menghubungi Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal Hadi Tjahjanto terkait kemungkinan dilibatkannya Babinsa sebagai petugas pelacak kontak.

    "Panglima memiliki 30 ribu Babinsa yang kami bisa akses," kata Budi.

    Selain itu, Budi juga berkomunikasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Mantan Kepala Kepolisian RI itu, ucap Budi, menyatakan bahwa Polri memiliki 60 ribu Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di seluruh desa. Tito juga menyebutkan ada sekitar 1 juta hansip atau Perlindungan Masyarakat (Linmas).

    Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin, mereka bisa diajari bagaimana melakukan tracing terhadap orang-orang yang berkontak erat dengan pasien positif Covid-19.

    "Jadi kalau ada yang kena, kita bisa minta Babinsa atau Bhabinkamtibmas atau Linmas karena mereka ada di seluruh Indonesia, untuk bisa lakukan tracing at least 30 kotan erat yang ditemui yang bersangkutan paling lama dalam waktu seminggu," ujar Budi.

    ANDITA RAHMA | BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.