Ini Alasan Keluarga Korban Sriwijaya Air Teridentifikasi Tunda Ambil Jenazah

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono. ANTARA/ Anita Permata Dewi

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono. ANTARA/ Anita Permata Dewi

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri hingga kini belum menyerahkan empat jenazah koban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang telah teridentifikasi.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono mengatakan, para keluarga korban masih ingin menunggu seluruh proses identifikasi selesai.

    "Keinginan keluarga adalah karena proses rekonsiliasi masih berjalan, maka dimungkinkan bagian tubuh para korban ini lebih banyak ditemukan, " kata Rusdi melalui konferensi pers daring pada Rabu, 13 Januari 2021.

    Sehingga, para keluarga memutuskan untuk menunda mengambil jenazah. Mereka baru akan mengambil jenazah saat seluruh bagian tubuh ditemukan dan dikumpulkan.

    ADVERTISEMENT

    "Apabila ada penambahan-penambahan itu," ucap Rusdi.

    Sebagaimana diketahui, Tim DVI Polri telah berhasil mengidentifikasi empat jenazah korban Sriwijaya Air SJ182, yakni atas nama Okky Bisma, Khasanah, Fadli Satrianto, dan Asy Habul Yamin. Keempatnya berhasil diidentifikasi berdasarkan 12 titik sidik jari yang cocok dengan data kependudukan.

    Pesawat Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Pontianak itu hilang kontak di Kepulauan Seribu tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada 9 Januari 2021. Pesawat Sriwijaya Air jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.