Survei KPAI: 76,8 Persen Anak Gunakan Gawai di Luar Jam Belajar

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 8 Agustus 2020. Kondisi ini memaksa anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil untuk berkumpul di rumah-rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi agar dapat mengakses pelajaran. Beberapa siswa ada yang bergantian memakai ponsel karena orang tua mereka tidak mampu membelikan gawai untuk belajar. ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

    Sejumlah siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 8 Agustus 2020. Kondisi ini memaksa anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil untuk berkumpul di rumah-rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi agar dapat mengakses pelajaran. Beberapa siswa ada yang bergantian memakai ponsel karena orang tua mereka tidak mampu membelikan gawai untuk belajar. ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

    TEMPO.CO, Jakarta-Hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sebanyak 76,8 persen anak diizinkan menggunakan gawai di luar jam belajar oleh orang tuanya.

    “Angka anak yang menggunakan gawai di luar aktivitas belajar masih cenderung tinggi, rentan bagi anak terpapar informasi salah, konten negatif atau menjadi korban atau pelaku kejahatan siber," kata Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime KPAI, Margaret A. Maimunah, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Januari 2021.

    Margaret mengatakan, jajak pendapat juga menemukan durasi penggunaan gawai di luar jam belajar adalah 1-2 jam perhari sekitar 36,5 persen, durasi 2-5 jam per hari sekitar 34,8 persen, dan durasi lebih dari 5 jam per hari sekitar 25,4 persen.

    Penggunaan gawai tersebut rata-rata adalah milik anak sebanyak 71,3 persen. Pemakaian gawai tanpa dibarengi aturan terkait penggunaanya dari orang tua, sebanyak 79 persen. "Kebanyakan orang tua juga tidak melakukan pendampingan pada saat anak menggunakan gawainya," ujarnya.

    ADVERTISEMENT

    Margaret mencontohkan, dalam kasus parodi lagu kebangsaan Indonesia Raya, anak pelaku (16 tahun) telah terlebih dahulu bergabung dengan grup media sosial yang berisi ujaran kebencian. Dalam kasus serupa, berdasarkan hasil pengaduan KPAI, orang tua melaporkan adanya grup pornografi yang mengundang anaknya masuk ke dalamnya. Dari satu grup pornografi berkembang ke grup lainnya yang juga sarat dengan hal yang sama.

    Margaret mengimbau orang tua melakukan cek atau kontrol pada gawai anak, khususnya grup-grup yang diikuti di media sosial. "Bagi orang tua yang menemukan grup-grup berkonten negatif, orang tua dapat melaporkannya ke KPAI untuk dapat dilakukan upaya tindak lanjut," katanya.

    Ia juga mengajak orang tua agar membangun komitmen dengan anak terkait aturan penggunaan gawai dan aktivitasnya dalam bermedia sosial agar anak-anak dapat terlindungi dari berbagai konten negatif dan kejahatan siber.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.