Yogyakarta Darurat Covid-19 hingga Akhir Januari 2021, Baca Peringatan Pakar

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengecek suhu tubuh umat Katolik saat misa Natal 2020 di Gereja St. Thomas, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Sejumlah gereja di Yogyakarta merayakan Natal secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Petugas mengecek suhu tubuh umat Katolik saat misa Natal 2020 di Gereja St. Thomas, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Sejumlah gereja di Yogyakarta merayakan Natal secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pakar Genetika Gunadi menyinggung lagi potensi mutasi D614G Virus SARS-CoV2 yang sebelumnya diungkapnya pada medio September 2020.

    Dia juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

    Menurut Gunadi, mutasi virus itu disinyalir berdaya infeksi lebih tinggi saat kasusnya terdeteksi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

    “Mutasi ini sepertiganya terdeteksi di Yogyakarta dan Jawa Tengah," ujar Gunadi pada Sabtu, 26 Desember 2020.

    ADVERTISEMENT

    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X telah memperpanjang lagi masa tanggap darurat Covid-19 pada 1-31 Januari 2021.

    Pengumuman perpanjangan masa tanggap darurat Covid-19 diteken pada 22 Desember 2020, menjelang masa liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021.

    "Status tanggap darurat diperpanjang sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi di DIY," ujar Sultan HB X pada Jumat, 25 Desember 2020.

    Gunadi mengatakan timnya telah merunut dan menganalisa untuk megetahui apakah mutasi baru virus Corona di Inggris dan Singapore apakah lebih berbahaya.

    Ini setelah publik dikagetkan dengan adanya peningkatan jumlah kasus Covid-19 yang signifikan di Inggris bulan Desember ini.

    Hasil analisis genomik virus Corona menunjukkan adanya sekelompok mutasi (varian) baru pada >50 persen kasus Covid-19 di Inggris tersebut.

    Varian ini dikenal dengan nama VUI 202012/01 (Variant Under Investigation, tahun 2020, bulan 12, varian 01), yang terdiri dari sekumpulan mutasi, antara lain 9 mutasi pada protein S (deletion 69-70, deletion 145, N501Y, A570D, D614G, P681H, T716I, S982A, D1118H).

    Varian baru (501.V2) juga ditemukan secara signifikan pada kasus COVID-19 di Afrika Selatan yaitu kombinasi 3 mutasi pada protein S: K417N, E484K, N501Y.

    Soal sebaran mutasi Covid-29 baru ini secara global, Gunadi melanjutkan, sampai hari ini varian VUI 202012/01 telah ditemukan pada 1,2 persen virus pada database GISAID, 99 persen varian tersebut dideteksi di Inggris.

    Selain di Inggris, varian ini telah ditemukan di Irlandia, Perancis, Belanda, Denmark, dan Australia. Sedangkan di Asia baru ditemukan di Singapura dan Hong Kong, serta Israel.

    Gunadi membeberkan yang perlu diwaspadai dari mutasi baru tersebut adalah dari 9 mutasi tersebut pada VUI 202012/01, ternyata ada satu mutasi yang dianggap paling berpengaruh yaitu mutasi N501Y.

    Hal ini karena mutasi N501Y terletak pada Receptor Binding Domain (RBD) protein S. RBD merupakan bagian protein S yang berikatan langsung dengan ACE2 receptor untuk menginfeksi sel manusia.

    "Pengaruh mutasi baru ini diduga meningkatkan transmisi antarmanusia sampai dengan 70 persen," katanya.

    Meski begitu mutasi virus penyakit Covid-19 ini belum terbukti lebih berbahaya atau ganas. Mutasi ini juga belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang sudah ada.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...