Kementan Targetkan Ekspor Perkebunan Meningkat

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani bawang merah di Nusa Tenggara Timur. Fotografer : Ester Elisabeth Umbu Tara

    Petani bawang merah di Nusa Tenggara Timur. Fotografer : Ester Elisabeth Umbu Tara

    Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan ekspor komoditas perkebunan hingga tiga kali lipat melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Upaya ini untuk membuka peluang ekspor lebih luas setelah mencatat kenaikan pada kwartal II dan III tahun ini.

    “Khusus untuk subsektor perkebunan, Kementan akan fokus pada komoditas strategis perkebunan seperti sawit, kopi, kakao, cengkeh, jambu mete, lada, pala, dan vanili, serta tetap dengan komoditas andalan ekspor yaitu kelapa sawit, karet, kelapa, teh, dan tembakau”, kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam sambutannya pada acara Hari Perkebunan Ke-63, 10 Desember 2020.

    Pengembangan komoditas perkebunan strategis tersebut akan dikoordinasikan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida). Dalam pelaksanaannya, Kementan akan merangkul BUMN dan swasta, sehingga dapat membangun korporasi petani. Diharapkan, petani dan pekebun dapat menjadi mitra swasta dan BUMN agar pendapatan dan kesejahteraannya meningkat.

    “Peringatan Hari Perkebunan ke-63 ini diharapkan menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah dan stakeholder perkebunan untuk menyusun strategi bersama dalam mengoptimalkan ekspor komoditi perkebunan di era revolusi industri 4.0,” katanya.

    Komoditas pertanian merupakan salah satu sektor yang tak terdampak parah akibat pandemi Covid-19. Pertanian mencatat, pada triwulan II produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 16,24 persen dan pada triwulan III tumbuh 2,15 persen.

    Salah satu penopang pertumbuhan positif PDB sektor pertanian pada kuartal lalu ialah subsektor perkebunan dengan kontribusi di triwulan III sebesar Rp 163,49 triliun atau 28,59 persen. Hasil ini tercapai berkat peningkatan permintaan kakao, karet, cengkeh dan tembakau, serta peningkatan permintaan luar negeri untuk komoditas olahan kelapa sawit (CPO).

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat ekspor perkebunan pada periode Januari-Oktober 2020 sebesar Rp 359,5 Triliun atau naik 11,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, Rp 322,1 triliun.  Artinya, sub sektor perkebunan menjadi penyumbang terbesar ekspor di sektor pertanian dengan kontribusi 90,92 persen.

    Ekspor komoditas perkebunan pada Januari-Oktober paling banyak disumbang kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi. Ekspor perkebunan tertinggi terjadi di bulan Oktober yaitu sebesar Rp 38,46 Triliun dengan kenaikan sebesar 8,76 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan peluang ekspor komoditi perkebunan sebagai salah satu sumber devisa negara terus meningkat meski wabah Covid 19 masih melanda dunia. 

    Selain peningkatan ekspor, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pertanian meningkat tajam dari 99,45 pada Juni 2020 menjadi 102,86 pada November 2020. NTP sub sektor tanaman perkebunan bahkan mencapai 110 pada November lalu.   Sedangkan NTP Subsektor perkebunan pada November naik 2,25 persen dari Bulan Oktober.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.